STALKER MISSION
By : Khildan Syuhendra Lubis
Gadis manis itu keluar dari rumah mungil yang bercat hijau terang di ujung gang jalan ini, dia memulai kakinya dengan langkah mantap, pelan namun pasti. Merona pipinya yang merekah menambah suasana di pagi kala kian menaik ke angkasa. Di saat itu ia yang sedang menggenakan kain satin berlengan panjang dan sebuah selimut beludru kuning emas yang menjadi lambang bagi perempuan menutup setiap sisi-sisi kelemahan tubuh indahnya menambah pesona ia sebagai perempuan muslimah yang utuh. Senyumnya membuat burung burung disekitarny bernanyi menyambut kecantikan cucu hawa pergi menuju ke tempat yang ia hendaki. Dengan segera ia berbelok keluar gang untuk keluar dari komplek rumahnya. Aku yang dari tadi berada di balik pohon cemara besar nan tua ini menunggu terpaku cukup lama dengan keindahan di setiap sudut presepsi terpesona karenanya. Ku kumpulkan niat ku untuk menyapanya dengan semangat yang kudapat dari dia ku beranikan diri ini untuk menuntunnya kea rah manapun ia hendak pergi. Aku sudah siap kau jemput sang kekasih. Namun sesaat itu sebuah kendarran umum melintas menyamping kearah ia berhenti dengan gerakan tanggannya memanggil. Sontak aku tersadar, aku tidak bisa terus ternganga oleh dirinya. Ku ayunkan kencang kakiku untuk mengejarnya. Namun terbang lah sudah seekor burung merpati, ia pun tak dapat ku gapai. Rasa penasaran ini kian menggerogoti diriku. Tuhan bimbinglah aku, tolonglah untuk berada disampingku, kuatkan aku, karena aku telah tergugah untuk mencintai seorang insan ciptaanmu. Pertemukanlah.
Siang telah menjemput, jam istirahat telah berlangsung, sekitar 1 jam aku duduk di bangku taman kampus ini, aku yang sedang terkurung dalam kebosanan bersama camera kesayanganku terkejutkan oleh sesosok makhluk indah yang ku lihat tadi pagi sedang bersenda gurau dengan teman teman sebayanya. Senyumnya yang merekah kembali mengingatkan ku pada moment bahagia yang membuat hati ini semakin terasa panas, gerak gerik lembutnya semakin melemaskan tubuh ini ke tanah. Dia begitu sempurna…benar, dia begitu sempurna untuk memulai sebuah cerita rahasia yang mengisi harapan di dalam hati ini. Kudekati mereka, namun belum berani aku memulainya, rasanya aku belum siap di hakimi olehnya. Aku hanya berdiri di balik dinding ini, memerhatikannya dalam dengan cameraku. Aku tak perduli bahwasanya kakiku ini telah gemetar berdiri melihat dia dari kejauhan sedang duduk duduk manis bersama teman sejawatnya. Aku tak perduli berapa peluh keringat yang turun harus menahan panas terik matahari yang membakar kulitku jatuh bergulir. Dan aku tak perduli bila ia tak menggubris keadaanku. Malang diriku.
Jalan lurus yang ia telusuri kian panjang. Menyambungkan dengan sebuah jalan menuju tempat tinggalnya. Aku yang dari tadi berada di belakang punggungnya terus mengikuti kemanapun ia dibawa oleh angin. Dikala aku yang tengah berada di mimpi soreku pun terbuyarkan dengan sebuah mobil melaju dari belakang kami berdua dan melemparkan sebuah sampah botol air minum kearah pinggir jalan dimana gadis itu berada tepat di sampingnya. Mobil itu menghilang ke ujung jalan, namun gadis itu tak memencak memaki kepada siapa yang membawa kuda besi itu.dia hanya memerhatikan kendaraan itu hilang perlahan lahan. Ku lihat dari kejauhan ia menghela nafasnya dan membungkuk kearah sampah botol tersebut dan membawanya bersama dia. Air yang membasahi tangannya tak ia perdulikan tetap ia bawa jalan bersamanya. SUBHANAALLAH, aku bergumam terkejut dalam hati, gadis itu memasukkan botol tadi kedalam sebuah tong sampah besar di pinggiran jalan, dengan sedikit tenaga ia membersihkan sisa sisa air yang membasahi telapak tangannya tadi dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 10 menit ia terus berjalan, tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Baguslah gumamku, agar ia tak mengetahui keberadaanku yang dari tadi mengawasi seluruh perjalanan yang ia tempuh. Tiba tiba dari seberang jalan kami lewati, seorang nenek tua bertongkat sedang linglung tak tau maksud. Gadis itu berhenti dan menoleh kepada nenek tersebut. Nenek itu memanggilnya dengan tangan yang lemas tak bertenaga. Gadis itu paham maksud nenek tersebut, ia mengawasi jalan jalan yang terbentang untuk menyebrang. Sesampainya, ia pegang nenek tersebut dengan kelemah lembutan namun pasti, ia bantu nenek itu untuk sampai di sisi jalan yang lain. Setibanya, nenek itu tersenyum dan membelai sayang pipi gadis tersebut. Senyumman gadis itu membunuh suasana sore ini menjadi lebih mesra, dengan siraman kerlapan cahaya langit sorepun mereka sepakat untuk berpisah.
langit semakin sayup sayup mengelabu. Anak anak yang sedang asik bermain bola kian makin gembira tak menghiraukan letih nya mereka sedang berpuasa. Gadis itu melewati lapangan kecil yang didalamnya terdapat beberapa anak anak berlarian tertawa bahagia bersama mereka. Tanpa terencana, seorang anak laki laki berkulit sawo matang terjatuh saat mengejar benda bulat yang bergelinding tersepak kesana kemari. Ia pun mulai menangis dan memegangi lututnya yang terluka. Terdengar olehnya, malaikat perempuan itu mendatangi bocah tersebut, di rogoh isi tasnya dan mengambil sebuah bandage kecil dan menempelkannya ke kaki anak tersebut. Di rabanya rambut anak tersebut untuk menghentikan tangis sendu anak itu, dan anak itu mulai terdiam dan melemparkan sebuah senyuman penuh kasih sayang kearah gadis terebut. Seorang teman anak lainnya, membisikkan sesuatu kepada gadis tersebut, dan ia pun mengangguk. MASYAALLAH Mereka sepertinya tahu mereka sedang diawasi olehku. Gadis itu berdiri dan membalikkan tubuhnya kearah aku berdiri. Diriku dan segalanya terdiam tersudut. Kini keadaan berbalik mereka yang mengawasiku dengan penuh tatapan cekam. Kemudian gadis itu membuka mulut mungilnya dan berkata dengan lantang.
“kamu yang disana? Keluarlah….!!” Bahasa dari gadis tersebut terdengar getir namun kuat hingga dapat meleburkan tulang tulang ku hingga tak berdaya.
Aku menampakkan diriku perlahan menuju mereka sambil mengalungkan benda favoriteku di leher. Aku berjalan langkah demi langkah untuk berada tatap muka dengannya. Kulihat anak anak lainnya berlindung di belakang jilbab panjang gadis tersebut dengan sedikit ketakutan. Sekiranya beberapa langkah aku terus maju, kulihat mereka memundurkan langkah mereka, selangkah pula akupun memberhentikan kakiku dengan segera.
“maaf, jika mengganggu dirimu disini, aku tidak ada bermaksud apa apa…” kata kata barusan keluar dengan terbata bata kuucapkan, karena ku sadari bahwa caraku ini tidaklah benar.
“lantas, apa maumu?” gadis itu melempar ucapannya padaku. Aku berusaha meraih tas kecilku dan membuka penutupnya, ku ambil sebuah buku berwarna biru muda berjudul “kutinggalkan dia karena dia” keluar bersamanya.
“bukankah buku ini milikmu, aku menemukkannya ditaman, 3 hari yang lalu, tak sengaja kulihat kau sedang tengah asik membacanya, lalu kemudian tak sadar kau menjatuhkan buku ini ketika hendak kau ingin pergi.” Kusodorkan buku itu padanya sambil tersenyum.
Wajahnya terkejut tegang, matanya terbuka sembari terbelalak dengan apa yang sedang ia lihat didepannya, perlahan kian pasti dia mulai tersenyum kecil, sedikit demi sedikit dan iapun tersipu malu, di sambarnya buku itu dengan penuh arti yang tak bisa aku gambarkan, anak anak yang berlindung di belakangnya perlahan memperlihatkan sosok mereka dengan tertawa riang.
“terima kasih….” ucapnya syahdu.
“sama sama” jawabku mantap.
Matahari telah pulang ke pusaranya, pertemuan ini berlanjut dengan perpisahan, sebuah perpisahan yang dimulai dengan sebuah cerita dan harapan kecil, serta sebuah pertemuan tak terduga dan perkenalan yang tak wajar namun manis untuk diinggat. Sebuah pencapaian dari dua insan yang tak saling mengenal namun berakhir indah terjalin dalam tali silaturahmi cinta yang teralun merdu bagaikan suara lantunan adzan yang mengiringi awalnya pertemuan kami yang berhujung kepada pertemanan, cinta dan juga impian.
THE END

3 comments
mas yang ini klau dibuka lewat Hp kok ngk bisa kebaca semua teksnya...
mas yang ini klau dibuka lewat Hp kok ngk bisa kebaca semua teksnya...
bisa koq .. siapa bilang :D
Tulis Aja Komen Kamu :)