Dua Merpati
Oleh : Khildan Syuhendra Lubis
Kuliah dan
tinggal sebatang kara di negeri orang sangat lah sulit, dimana ketika engkau
sedang sakit, hanya tubuh ini lah yang mampu bertahan,ketika hati sedang dilanda
rindu yang berkecambuk di dada,hanya telephone dan video call yang dapat
mengobati rasa beratnya terpisah dengan orang orang yang kita sayangi di
kampong halaman,disaat orang orang berjalan berdua bergandengan mesra, aku hanya
dapat melipatkan tanganku di dada,begitu naïf sekali pikirku.
Di langit
teduh ini,dan cahaya kuning sedikit tidak menyilaukan,Kuhentikan tulisan novel
di laptop pink kesayanganku,aroma kopi latte yang kupesan tadi masih
menggelitik lubang hidungku,membuat perasaan nyaman dan tenang,namun bagaimana
keadaan hati dapat tenang,apabila di sekelilingku banyak orang orang yang
memadu kasih dengan pasangannya masing masing,tepat di depan mejaku nomor 7 di
hadapanku ada 2 ekor sepasang burung merpati yang sedang bercanda mesra,si laki
laki memakai setelan blazer biru dongker dan memiliki hidung khas orang orang
sini,lalu teman perempuannya sangat manis sekali dengan berstelan top knit
berwarna kuning cyan dan memiliki mata berwarna hijau terang,aku sangat iri
sekali ketika sang merpati jantan mencium tangan sang merpati betina,ahhhh!
Kenapa aku harus melihat seperti ini hari ini.
Ku tolehkan
kepalaku ke arah hp yang tergeletak di samping laptopku,kuambil dan kucoba
geser layarnya,namun harapanku untuk bila ada pesan email masuk dari pangeran
impian yang jauh di kampung halaman tak kunjung ada, sudah sekitar 2 bulan Andi
tak memberi kabar padaku,aku bagai merpati betina yang kehilangan jalan
pulang,tak tahu arah tujuan mencari kemana? email,skype,terkadang hingga ku telephone
selalu dia berkata sibuk, sibuk, dan sibuk, sesibuk apakah dia hingga tak bisa
mengubris keberadaanku yang kesepian ini,dengan hati jengkel kuletakkan hp ku
kembali dengan rasa dongkol,lebih baik aku kembali ke apartement gumamku, kurapikan
seluruh barang barangku dan kukemas laptopku tadi, tak lupa juga kuletakkan
tagihan bill kopiku tadi dan melebihkan uang tipnya untuk si pelayan. Di saat yang bersamaan seorang laki
laki bersepeda yang menggunakan baju bergaris merah putih dan
berkacamata kotak berhenti dan memberikan sebuah kertas kecil di depanku.
Dengan sigap
si laki laki tadi berkata.
“c’est pour
tu!” kata laki
laki tak dikenal itu.
“que c’est?” balasku.
Ia
memberikan sebuah surat kecil berwarna putih dan dihiasi ornament ornament pink
di sisi sisi suratnya,setelah aku menerima benda ini,laki laki itu mengayuh
kembali sepedanya,dengan wajah terbelalak aku memperhatikan laki laki itu
hingga ia hilang di sebuah persimpangan,setelah aku tersadar dari lamunanku, aku
mencoba membuka surat tadi, di surat tersebut bertuliskan sebuah kalimat
perintah.
“allera art gallery
dans rue ville no. 18 entrer et monter!” bunyi tulisan tersebut.
Aku masih
ragu,apa kah aku harus ketempat ini atau tidak,bagaimana jika ini jebakan
seseorang yang ingin melukaiku,atau janganjangan ini sebuah kejutan
untukku,namun ketika hatiku bergejolak berlawanan tujuan,kehendakku untuk ke
sana menang,aku yang pergi dibawa niat dan rasa penasaranku ke tempat itu
menuntunku untuk tiba disana.
Tak cukup
lama aku harus tiba,sekitar 10 menit menggunakan taxi aku bisa kemari, dengan
berbekal alamat seadanya si supir bisa mengantarku dengan tanpa tersesat,di
hadapanku sudah terdapat sebuah gedung tua tinggi berlantai 3 pikirku dan
bercatkan putih, di dinding atasnya bertuliskan “ART GALLERY” besar sekali, di
jendela luarnya sangat cantik, sebuah jendela yang dibawah jendelanya ada
sebuah kotak bersegi panjang yang di dalamnya tumbuh bunga bunga daisy berwarna
kuning dan merah keemasan,pintunya 2 kali besar dari driku,gagang nya berwarna
coklat emas,rasa keingintahuanku bertambah besar saat aku membuka pintu
tersebut,aku di sambut 2 orang gadis kembar di kanan dan kiri sisi
pintunya,mereka memakai baju yang sama,bergaris garis kuning dan putih,mereka
meminta jubah jaketku dan topi koboy serta tas kecilku,udara hangat ruangan ini
membuatku makin bersemangat.
“il dans en
haut!” kata gadis
yang sebelah kanan,dan gadis yang disebelah kiri tersenyum riang dan
menunjukkan ku arah sebuahtangga.
Aku menaiki
sebuah tangga panjang ke atas sekitar 12 anak tangga dan membelok ke kanan
untuk menuju lantai 2,betapa terkejutnya,di dinding samping tangga tersebut
terpasang bingkai bingkai foto aku dan andi, foto pertama dimana aku waktu itu
mengadakan pesta kelulusanku di sma 6 malang,aku naiki lagi tangga dan kutemui
foto kedua,foto tersebut dimana aku dan andi menaiki kuda berlibur saat itu di
bandung,kunaiki lagi di foto ketiga foto dimana aku sedang berada di rumah
sakit karena serangan maghku yang akut dan disebelahnya andi memotret diriku
dan dirinya, di foto keempat aku dan andi yang saat itu makan malam di sebuah
pendopo saung di kawasan Surabaya,di foto kelima foto andi yang
menggunakan kostum badut di ulang tahunku,sekitar 30 foto yang menghiasi
dinding dinding lorong anak tangga menuju lantai dua,saat telah sampai dilantai
dua,aku mendapati sebuah pintu yang terbuka sedikit,kuiintip kedalam dan ku
harapkan ada andi di dalam ruangan tersebut,namun yang aku lihat hanyalah
suasana ruangan kosong bercat putih bersih yang sunyi,tak ada angin tak ada
bunyi,sepi sekali,namun penglihatanku tertuju pada sebuah benda yang tertancap
di ujung ruangan ini,sebuah frame bingkai kosong besar berukuran foto keluarga
terpampang terpaku.
Banyak Tanya
dikepalaku,kenapa bingkai foto ini kosong? Dan kenapa hanya bingkai ini saja
yang kosong? Aku berjalan menuju bingkai tersebut,dan kutemui sebuah kertas
kecil terlem di bawah bingkainya yang bertuliskan.
“akankah
bingkai ini kita isi dengan sebuah foto yang membuat kita selalu bersama hingga
akhir hayat?”
Begitu kata
katanya,aku terdiam sejenak,mataku berbinar,tanganku bergetar kecil,dan hawa
hawa haru sebentar lagi akan datang kepadaku,lalu tiba tiba terdengar suara
yang sangat sangat aku rindukan berkumandang dan bergema di ruangan ini.
“Anita
naiklah kelantai tiga lewat pintu yang ada disamping kirimu naikilah tangganya
dan temui aku disini….” Suara andi berseru.
Aku tersadar
dalam lamunanku, aku baru melihat ada pintu di kiriku, tanpa aku pikir kembali,
aku segera membukanya dan ku langkahkan kakiku dengan sepatu hells tinggiku ini
dengan tempo cepat menaiki anak demi anak tangga tersebut,sampailah aku di
sebuah pintu terakhir pikirku, kubuka pintu itu, karena suasana gelap lorong
tangga ini, ketika kubuka, cahaya sinarluar matahari menyilaukan mataku dan
semua yang aku lihat tak begitu jelas namun sangat jelas untuk ku ketika aku
melihat seorang laki laki berdiri disebrang atap gedung ini,dia memakai setelan
tuxedo rapi,dihiasi senyum merekah dan wajah yang ceria sedang melemparkan aura
penuh cinta kepadaku.
Iya, Andi!
Dia adalah laki laki yang berdiri itu,disekelilingnya sudah berdiri kedua orang
tua ku dan orang tuanya serta beberapa teman teman ku yang semuanya memakai
baju bergaris pink putih,entah dari kapan aku menyukai dengan yang namanya
setelan fashion garis garis putih seperti baju tahanan narapidana,namun bagiku
itu cukup unik,sudah tentu pasti andi tahu dengan kesukaanku.
Dia berlari
menjemputku dan memegang kedua tanganku,hangat telapak tangannya membuat hatiku
tenang,entah apa yang akan di katakannya,namun dari sesuatu yang aku pikirkan
aku telah tahu akan apa yang terjadi.
“Anita
walaupun aku selalu berlaku bodoh dihadapanmu,walaupun aku tidak pernah
mendengar kata kata darimu, walaupun aku selalu membuatmu dongkol dengan sifat
sifatku. Ketahuilah, hingga Tuhan mengambil nafas yang ada pada tubuhku ini, di
setiap nafasku itu selalu ada kamu, di sela sela nadi ini selalu memacu wajah
dirimu,mungkin aku jauh dari laki laki sempurna yang ada di mana mana,tapi kau
tahu bersamamu membuatku merasa sempurna”. Tutur kata Andi kepadaku.
Aku hanya
diam dan tak tersadar aku menitikkan air mata,jantungku berdegap kencang
seketika, tubuhku lemas, kepalaku berputar tak karuan, aku benar benar gugup
sangat sangat gugup.
Lalu Andi
berlutut di hadapanku, dengan kaki kiri yang menyentuh permukaan atap gedung
ini ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon di tangan
kanannya,dengan tanganku yang masih di genggamnya,ambisi dia mengucapkan sebuah
kata kata yang tak pernah aku duga, ia mengatakan pelamaran yang benar benar
membuatku melayang dibuatnya.
“anita,
vouloir marier avec je?” pinta andi.
“oui,oui
andi oui……” aku menjawab
Segera ia
melingkarkan cincin yang ia berikan kepadaku,lalu kecupan penuh kasih sayang
mendarat di dahiku,ia lalu memelukku dengan erat, sorak sorai keluarga dan
teman temanku gembira sekali, mereka meneriaki hari jadi aku dan andi saat ini.
Di suasana
sore kota ini,kami berdua berpelukan dibawah sinar matahari yang mulai
redup,kebahagiaan yang akan aku hadapi nantinya bersama pasangannku sekarang
sudah tak sabar lagi,kenangan yang tak pernah padam oleh api,lamaran ini akan
menjadi kenangan termanis dalam hidupku,kini si merpati betina menemukan
jalannya bersama pujaannya sang merpati jantan,lamaran terindah yang pernah ada
dalam hidupku,lamaran pernikahan di atas gedung dekat menara Eiffel PARIS.
TAMAT
NB.
c'est pour
tu! : Ini untukmu
que c’est? :
apaini?
aller a art
gallerydans rue ville no. 18 entrer et monter! : pergike art gallery di
jalanville no.18 masuk dan naiklah!
il dans en
haut! : dia di atas!
anita,
vouloir marier avec je? : anita,maukah kau menikah dengan ku?
Oui,oui andi
oui! : iya andi iya.

Tulis Aja Komen Kamu :)