Kamis, 23 Juni 2016

Dua Merpati | Cerita Pendek

Dua Merpati
Oleh : Khildan Syuhendra Lubis



Kuliah dan tinggal sebatang kara di negeri orang sangat lah sulit, dimana ketika engkau sedang sakit, hanya tubuh ini lah yang mampu bertahan,ketika hati sedang dilanda rindu yang berkecambuk di dada,hanya telephone dan video call yang dapat mengobati rasa beratnya terpisah dengan orang orang yang kita sayangi di kampong halaman,disaat orang orang berjalan berdua bergandengan mesra, aku hanya dapat melipatkan tanganku di dada,begitu naïf sekali pikirku.

Di langit teduh ini,dan cahaya kuning sedikit tidak menyilaukan,Kuhentikan tulisan novel di laptop pink kesayanganku,aroma kopi latte yang kupesan tadi masih menggelitik lubang hidungku,membuat perasaan nyaman dan tenang,namun bagaimana keadaan hati dapat tenang,apabila di sekelilingku banyak orang orang yang memadu kasih dengan pasangannya masing masing,tepat di depan mejaku nomor 7 di hadapanku ada 2 ekor sepasang burung merpati yang sedang bercanda mesra,si laki laki memakai setelan blazer biru dongker dan memiliki hidung khas orang orang sini,lalu teman perempuannya sangat manis sekali dengan berstelan top knit berwarna kuning cyan dan memiliki mata berwarna hijau terang,aku sangat iri sekali ketika sang merpati jantan mencium tangan sang merpati betina,ahhhh! Kenapa aku harus melihat seperti ini hari ini.

Ku tolehkan kepalaku ke arah hp yang tergeletak di samping laptopku,kuambil dan kucoba geser layarnya,namun harapanku untuk bila ada pesan email masuk dari pangeran impian yang jauh di kampung halaman tak kunjung ada, sudah sekitar 2 bulan Andi tak memberi kabar padaku,aku bagai merpati betina yang kehilangan jalan pulang,tak tahu arah tujuan mencari kemana? email,skype,terkadang hingga ku telephone selalu dia berkata sibuk, sibuk, dan sibuk, sesibuk apakah dia hingga tak bisa mengubris keberadaanku yang kesepian ini,dengan hati jengkel kuletakkan hp ku kembali dengan rasa dongkol,lebih baik aku kembali ke apartement gumamku, kurapikan seluruh barang barangku dan kukemas laptopku tadi, tak lupa juga kuletakkan tagihan bill kopiku tadi dan melebihkan uang tipnya untuk si pelayan. Di saat yang bersamaan seorang laki laki bersepeda yang menggunakan baju bergaris merah putih dan berkacamata kotak berhenti dan memberikan sebuah kertas kecil di depanku.
Dengan sigap si laki laki tadi berkata.
“c’est pour tu!” kata laki laki tak dikenal itu.
“que c’est?” balasku.

Ia memberikan sebuah surat kecil berwarna putih dan dihiasi ornament ornament pink di sisi sisi suratnya,setelah aku menerima benda ini,laki laki itu mengayuh kembali sepedanya,dengan wajah terbelalak aku memperhatikan laki laki itu hingga ia hilang di sebuah persimpangan,setelah aku tersadar dari lamunanku, aku mencoba membuka surat tadi, di surat tersebut bertuliskan sebuah kalimat perintah.

“allera art gallery dans rue ville no. 18 entrer et monter!” bunyi tulisan tersebut.

Aku masih ragu,apa kah aku harus ketempat ini atau tidak,bagaimana jika ini jebakan seseorang yang ingin melukaiku,atau janganjangan ini sebuah kejutan untukku,namun ketika hatiku bergejolak berlawanan tujuan,kehendakku untuk ke sana menang,aku yang pergi dibawa niat dan rasa penasaranku ke tempat itu menuntunku untuk tiba disana.

Tak cukup lama aku harus tiba,sekitar 10 menit menggunakan taxi aku bisa kemari, dengan berbekal alamat seadanya si supir bisa mengantarku dengan tanpa tersesat,di hadapanku sudah terdapat sebuah gedung tua tinggi berlantai 3 pikirku dan bercatkan putih, di dinding atasnya bertuliskan “ART GALLERY” besar sekali, di jendela luarnya sangat cantik, sebuah jendela yang dibawah jendelanya ada sebuah kotak bersegi panjang yang di dalamnya tumbuh bunga bunga daisy berwarna kuning dan merah keemasan,pintunya 2 kali besar dari driku,gagang nya berwarna coklat emas,rasa keingintahuanku bertambah besar saat aku membuka pintu tersebut,aku di sambut 2 orang gadis kembar di kanan dan kiri sisi pintunya,mereka memakai baju yang sama,bergaris garis kuning dan putih,mereka meminta jubah jaketku dan topi koboy serta tas kecilku,udara hangat ruangan ini membuatku makin bersemangat.

“il dans en haut!”  kata gadis yang sebelah kanan,dan gadis yang disebelah kiri tersenyum riang dan menunjukkan ku arah sebuahtangga.

Aku menaiki sebuah tangga panjang ke atas sekitar 12 anak tangga dan membelok ke kanan untuk menuju lantai 2,betapa terkejutnya,di dinding samping tangga tersebut terpasang bingkai bingkai foto aku dan andi, foto pertama dimana aku waktu itu mengadakan pesta kelulusanku di sma 6 malang,aku naiki lagi tangga dan kutemui foto kedua,foto tersebut dimana aku dan andi menaiki kuda berlibur saat itu di bandung,kunaiki lagi di foto ketiga foto dimana aku sedang berada di rumah sakit karena serangan maghku yang akut dan disebelahnya andi memotret diriku dan dirinya, di foto keempat aku dan andi yang saat itu makan malam di sebuah pendopo saung di kawasan  Surabaya,di foto kelima foto andi yang menggunakan kostum badut di ulang tahunku,sekitar 30 foto yang menghiasi dinding dinding lorong anak tangga menuju lantai dua,saat telah sampai dilantai dua,aku mendapati sebuah pintu yang terbuka sedikit,kuiintip kedalam dan ku harapkan ada andi di dalam ruangan tersebut,namun yang aku lihat hanyalah suasana ruangan kosong bercat putih bersih yang sunyi,tak ada angin tak ada bunyi,sepi sekali,namun penglihatanku tertuju pada sebuah benda yang tertancap di ujung ruangan ini,sebuah frame bingkai kosong besar berukuran foto keluarga terpampang terpaku.

Banyak Tanya dikepalaku,kenapa bingkai foto ini kosong? Dan kenapa hanya bingkai ini saja yang kosong? Aku berjalan menuju bingkai tersebut,dan kutemui sebuah kertas kecil terlem di bawah bingkainya yang bertuliskan.

“akankah bingkai ini kita isi dengan sebuah foto yang membuat kita selalu bersama hingga akhir hayat?”

Begitu kata katanya,aku terdiam sejenak,mataku berbinar,tanganku bergetar kecil,dan hawa hawa haru sebentar lagi akan datang kepadaku,lalu tiba tiba terdengar suara yang sangat sangat aku rindukan berkumandang dan bergema di ruangan ini.
“Anita naiklah kelantai tiga lewat pintu yang ada disamping kirimu naikilah tangganya dan temui aku disini….” Suara andi berseru.

Aku tersadar dalam lamunanku, aku baru melihat ada pintu di kiriku, tanpa aku pikir kembali, aku segera membukanya dan ku langkahkan kakiku dengan sepatu hells tinggiku ini dengan tempo cepat menaiki anak demi anak tangga tersebut,sampailah aku di sebuah pintu terakhir pikirku, kubuka pintu itu, karena suasana gelap lorong tangga ini, ketika kubuka, cahaya sinarluar matahari menyilaukan mataku dan semua yang aku lihat tak begitu jelas namun sangat jelas untuk ku ketika aku melihat seorang laki laki berdiri disebrang atap gedung ini,dia memakai setelan tuxedo rapi,dihiasi senyum merekah dan wajah yang ceria sedang melemparkan aura penuh cinta kepadaku.

Iya, Andi! Dia adalah laki laki yang berdiri itu,disekelilingnya sudah berdiri kedua orang tua ku dan orang tuanya serta beberapa teman teman ku yang semuanya memakai baju bergaris pink putih,entah dari kapan aku menyukai dengan yang namanya setelan fashion garis garis putih seperti baju tahanan narapidana,namun bagiku itu cukup unik,sudah tentu pasti andi tahu dengan kesukaanku.

Dia berlari menjemputku dan memegang kedua tanganku,hangat telapak tangannya membuat hatiku tenang,entah apa yang akan di katakannya,namun dari sesuatu yang aku pikirkan aku telah tahu akan apa yang terjadi.

“Anita walaupun aku selalu berlaku bodoh dihadapanmu,walaupun aku tidak pernah mendengar kata kata darimu, walaupun aku selalu membuatmu dongkol dengan sifat sifatku. Ketahuilah, hingga Tuhan mengambil nafas yang ada pada tubuhku ini, di setiap nafasku itu selalu ada kamu, di sela sela nadi ini selalu memacu wajah dirimu,mungkin aku jauh dari laki laki sempurna yang ada di mana mana,tapi kau tahu bersamamu membuatku merasa sempurna”. Tutur kata Andi kepadaku.

Aku hanya diam dan tak tersadar aku menitikkan air mata,jantungku berdegap kencang seketika, tubuhku lemas, kepalaku berputar tak karuan, aku benar benar gugup sangat sangat gugup.

Lalu Andi berlutut di hadapanku, dengan kaki kiri yang menyentuh permukaan atap gedung ini ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon di tangan kanannya,dengan tanganku yang masih di genggamnya,ambisi dia mengucapkan sebuah kata kata yang tak pernah aku duga, ia mengatakan pelamaran yang benar benar membuatku melayang dibuatnya.

“anita, vouloir marier avec je?” pinta andi.
“oui,oui andi oui……” aku menjawab

Segera ia melingkarkan cincin yang ia berikan kepadaku,lalu kecupan penuh kasih sayang mendarat di dahiku,ia lalu memelukku dengan erat, sorak sorai keluarga dan teman temanku gembira sekali, mereka meneriaki hari jadi aku dan andi saat ini.

Di suasana sore kota ini,kami berdua berpelukan dibawah sinar matahari yang mulai redup,kebahagiaan yang akan aku hadapi nantinya bersama pasangannku sekarang sudah tak sabar lagi,kenangan yang tak pernah padam oleh api,lamaran ini akan menjadi kenangan termanis dalam hidupku,kini si merpati betina menemukan jalannya bersama pujaannya sang merpati jantan,lamaran terindah yang pernah ada dalam hidupku,lamaran pernikahan di atas gedung dekat menara Eiffel PARIS.


TAMAT



NB.

c'est pour tu! : Ini untukmu

que c’est? : apaini?

aller a art gallerydans rue ville no. 18 entrer et monter! : pergike art gallery di jalanville no.18 masuk dan naiklah!

il dans en haut! : dia di atas!

anita, vouloir marier avec je? : anita,maukah kau menikah dengan ku?

Oui,oui andi oui! : iya andi iya.



Tulis Aja Komen Kamu :)