ORANG KAYO HITAM DAN ASAL MULA NEGERI JAMBI
Silahkan download MP3 nya di sini,
Sebagai referensi, drama ini dibuat oleh siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 4 Merlung, Jambi. Sebagai penampilan pementasan seni 2018
Sebagai referensi, drama ini dibuat oleh siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 4 Merlung, Jambi. Sebagai penampilan pementasan seni 2018
Di
sutradai oleh : Danang
Budi Pramono
Nama
pemain :
- Putri Selaras Pinang Masak
- Datuk Berhalo
- Anak 1 Rangkayo Pingai
- Anak 2 Rangkayo Kedataran
- Anak 3 Rangkayo Gemuk
- Anak 4 Rangkayo Hitam
- Prajurit 1 Melayu
- Prajurit 2 Melayu
- Raja Mataram
- Dayang 1
- Dayang 2
- Patih
- Peramal
- Mpu Berjakarti
- Mayang Mangurai
- Putri 1
- Putri 2
- Putri 3
- Warga
- Tumenggung Merah Mato
NARASI KISAH
ORANG KAYO HITAM DAN ASAL MULA NEGERI JAMBI
Alkisah tanah melayu di bumi Nusantara. Seorang
Putri dari keturunan Pagaruyung yang memimpin kerajaan melayu bernama Putri Selaras
Pinang Masak. Ia menikah dengan seorang saudagar dari Turki yang bergelar
“Datuk Paduko Berhalo”. Mereka dikaruniai 4 orang anak, 3 diantaranya, telah
menjadi datuk atau pemimpin wilayah di daerah sekitar kuala. Hanya sibungsu
yang bernama ‘Orang Kayo Hitam’ yang lebih
memilih memperluas kekuasaan ayahnya sampai kepedalaman.
Pinang
Masak : “ Kakanda.. kakanda…?” (memanggil suaminya, si Datuk Berhalo)”.
Datuk
Berhalo : “ Ada apa gerangan adinda?
Wajahmu terlihat murung.”
Pinang
Masak : “ Aku hanya sedikit khawatir. Aku
ingin mengumpulkan semua anak-anak kita.”
Datuk
Berhalo : “Baiklah akan kupanggilkan
mereka semua. Anakku yang pertama, masuklah!”
Anak
pertama pun datang..
Datuk
Berhalo : “ Wahai anakku yang pertama..
sekarang hidupmu telah bahagia, kau sudah menjadi datuk, dan terima kasih
engkau telah memberikanku keturunan yang sangat manis..”
Anak
pertama : “ Terima kasih ayahanda..”
Datuk
Berhalo : “ Anakku yang kedua..! Masuk
lah!”
Anak ke
dua pun datang..
Datuk
Berhalo : “ Wahai anakku yang ke dua,
kulihat hidupmu sekarang bahagia, kau telah menjadi datuk, dan kau mempunyai
keturunan yang sangat lucu..”
Anak ke
dua : “ Terima kasih ayahanda..”
Datuk
Berhalo : “ Anakku yang ke tiga..!
Masuklah!”
Anak ke
tiga pun datang..
Datuk
Berhalo : “ Wahai anakku yang ke tiga,
kulihat hidupmu sekarang bahagia, kau telah menjadi datuk, dan kau sudah
memberiku keturunan..”
Anak ke
tiga : “ Terima kasih ayahanda..”
Datuk
Berhalo : “ Anakku yang ke empat!
Masuklah!”
Anak ke
empat pun datang dengan memperlihatkan kemahirannya dalam ilmu pencak silat.
Dia adalah Orang Kayo Hitam. Seorang lelaki yang gagah berani, kuat, dan sakti.
Datuk
Berhalo : “ Wahai anakku yang ke empat,
Orang Kayo Hitam.. Akan sempurna keluarga ini jika kamu menjadi datuk,
segeralah mencari pendamping hidupmu, dan memberikanku keturunan, seperti
kakak-kakakmu..”
Kayo
Hitam : “ Ayahanda.. Saya belum mau
menikah, memperluas kerajaan ayahanda ke seluruh tanah melayu, lebih berharga
bagi saya. Daripada menjadi datuk atau memiliki anak”
Pinang
Masak : “ Wahai anakku Orang Kayo Hitam..
janganlah berpikir begitu, memperluas kerajaan ayahandamu memanglah penting,
tetapi pendamping hidupmu itu jugalah penting anakku..”
Kayo
Hitam : “ Baiklah ibunda.. Tetapi,
mencari istri itu tidaklah secepat dan semudah itu..”
Pinang
masak : “ ibunda mengerti”
Kemudian
masing-masing pergi dan yang tertinggal hanya Rangkayo Pingai dan Orang Kayo
Hitam. Mereka akan membicarakan tentang kerajaan mereka.
Kayo
Hitam : “ Wahai kando Rangkayo Pingai,
apakah kerajaan ini akan selalu berada di bawah kerajaan Mataram? Bukankah
kerajaan kita ini bisa berdiri sendiri tanpa kerajaan licik itu?”
Kayo
Pingai : “ Wahai adindo, sesungguhnya
aku juga sangat tidak menginginkan itu semua. Tapi.. harus bagaimana lagi?
Segala kekuasaan ada di tangan Kerajaan Mataram, jika kita tidak memberikan
upeti, mereka akan bertindak sewenang-wenang pada rakyat kita.”
Kayo Hitam :
“ Mohon maaf kando, tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi, kita tidak
bisa terus tertindas seperti ini. Maafkan aku jika bertindak lebih jauh”
Ketika
mereka sedang membicarakan perihal kerajaan mereka, istri Rangkayo Pingai yang
tengah mengandung tiba-tiba mengerang kesakitan, dia meronta-ronta karena
merasakan bahwa jabang bayinya akan segera lahir.
Kayo
Pingai : Kamu kenapa istriku?
Istri : Sepertinya anak kita sudah
bersiap untuk menatap dunia ini kando.
Keputusan
Rangkayo Hitam untuk menghentikan pengiriman upeti ternyata telah
direncanakannya. Saat pengiriman upeti berlangsung Rangkayo Hitam datang
menghadang.
Kayo
Hitam : Wahai penduduk kerajaan,
mengirim pekasang pajak dan pekasang keluang adalah haram. Melayu adalah
kerajaan dan Mataram juga kerajaan. Kenapa kita harus tunduk?
Prajurit
1 M : Benar juga ya benar sekali apa
yang diucapkan Raden Rangkayo Hitam.
Prajurit
2 M : Iya , benar sekali
Kayo
Hitam : Kita harus hentikan pengiriman
upeti ini. Aku minta kalian kembali ke kerajaan
Prajurit
1 & 2 : Baik Raden
Pernyataan
Rangkayo hitam meyakinkan penduduk kerajaan, dan pengiriman upeti dihentikan
untuk beberapa waktu.
Di
Kerajaan Mataram,
Suasana
gaduh terjadi, dan Raja Mataram sepertinya telah merasakan firasat yang kurang
baik.
(Raja
mataram sedang bersantai di temani selir-selirnya)
Raja
Mataram : “ Huuft.. aku sangat lelah..
Dayang! Kipasi aku! Hei dayang! Lelet tenan koyo keong! Aku ki panasen! Cepetan
to, Jangkrik!”
Dayang 1 : Injih ndoro, nyuwun ngapunten
Para
dayang pun mengipasi Rajanya dengan sekuat tenaga.
Raja
Mataram : “ Hei dayang! Aku ki pengen sek
aadem-ademan! Udu angin topan! Wesss. Gowokne aku panganan!
Dayang 2 : Injih ndoro,
Sesaat
kemudian patih nya pun datang dengan tergesa-gesa..
Raja
Mataram : “ hey-hey-hey! Opo meneh iki!
Kurang gaji kalian? Kalian iku malah kurang ajar! Ono opo patih?”
Patih :
“ Ampun ndoro. Ada seseorang yang telah
menggagalkan pengiriman upeti kerajaan ndoro”
Raja
Mataram : Sopo?
Patih : wong soko kerajaan Melayu
ndoro!”
Raja
Mataram : “ Apaa! Kenapa bisa begitu!
Bodoh kalian! Kenapa bisa jebol pertahanan kita!, sudah kufirasatkan ternyata
benar-benar terjadi”
Patih :
“ Ampun ndoro, orang itu sangat sakti, namanya Orang Kayo Hitam, dia adalah
adik dari Rangkayo Pingai pemimpin kerajaan Melayu.”
Raja
Mataram : Arghhh, aku tidak mau tahu.
Pokok e tumpas orang yang menjadi biang pembangkangan.
Peramal : Izin bicara ndoro, orang ini amat
sakti ndoro, tidak mudah untuk melawannya. Orang Kayo Hitam hanya dapat
terbunuh dengan sebilah keris yang terbuat dari 7 jenis logam dari 9 desa,
ditempa dalam 40 Jum’at dan disepuh dengan air 12 muara.
Raja
Mataram pun mengambil keputusan yang sulit dengan memintakan peramal untuk
membuatkan keris kepada mpu tersakti di negeri Mataram kala itu.
Raja
Mataram : Baiklah kalau begitu, peramal.
Carikan aku pandai besi yang tersakti di negeri ini, dan mintakan ia untuk
membuat keris dalam waktu sesingkat mungkin.
Peramal : Injih ndoro.
Patih
dan Peramal pun undur diri.
Belum genap 40 Jum’at, ternyata Orang Kayo Hitam
telah mengetahui perihal tentang keris yang akan dibuat untuk membunuh dirinya.
Orang Kayo Hitam seorang diri menyamar sebagai pedagang dan berangkat ke
Mataram. Dan sampailah ia di tempat empu pembuat keris.
Kayo
Hitam : Permisi Tuan, saya ingin menawarkan
dagangan saya kepada tuan
Mpu : Pergilah, aku sedang tidak
ingin membeli daganganmu.
Kayo
Hitam : Apa yang tuan sibukkan dengan
sebilah besi itu?
Mpu : Aku sedang membuat keris
untuk membunuh seorang yang amat sakti
Kayo
Hitam : Siapa dia?
Mpu : Orang Kayo Hitam dari negeri
Melayu.
Kayo
Hitam : Urungkanlah niatmu!, akulah
Rangkayo Hitam.
Mpu : Hah! Kurang Ajar!
Pertempuran
pun terjadi yang berlangsung di tengah gelanggang. Pukulan demi pukulan pun
diberikan dari keduanya.
(Pertempuran)
Mpu : Aaaahhh, aku tertusuk
Pasukan
Kerajaan tiba-tiba datang mengepung Rangkayo Hitam, namun dengan gesitnya ia
dapat merobohkan seluruh pasukan kerajaan.
Prajurit : Ayo, kita bunuh dia
Prajurit
2 : Seraaangg!
Segala
usaha yang dilakukan prajurit kerajaan sia-sia. Rangkayo Hitam terlampau sakti.
Tak lama
kemudian, Raja Mataram pun datang.
Raja
Mataram : Sudah-sudah, hentikan
pertarungan ini
Raja
Mataram : Melihat kesaktianmu, kau memang
tak dapat dikalahkan. Aku memutuskan berdamai denganmu dan melepaskan fasal
kerajaan Melayu dari Mataram. Terimalah keris ini
Saat
penobatan, keris itu digunakan untuk menggonjai rambutnya. Dan ia ditawarkan
untuk menjadi wakil di Kerajaan Mataram. Namun ia lebih memilih untuk kembali
ke kerajaannya.
Raja
Mataram : Sudikah kau menjadi wakil di
Mataram wahai Rangkayo Hitam
Kayo
Hitam : Mohon maaf gusti paduka raja
Mataram yang agung. Aku tidak dapat menerima tawaran itu. Aku ingin kembali
pada rakyatku di negeri Melayu.
Di
perjalanannya, ia berhenti di sebuah kampung dibawah kerajaan Malayu. Ia
menemukan sehelai rambut. rambut itu panjang
dan tebal, hitam lagi harum, menandakan pemiliknya adalah seorang wanita
yang cantik jelita. Orang Kayo Hitam
bermaksud ingin mencari tau siapa pemilik rambut tersebut, dan akan
menjadikannya sebagai istri.
Kayo
Hitam : “ Rambut ini harum dan haluuus
sekali. Siapakah gerangan pemilik rambut ini? Aah pujaan hatiku.”
Kayo
Hitam : “Permisi.. Maaf saya
menggangu, saya ingin menanyakan siapa gerangan pemilik rambut nan panjang lagi
harum ini?”
Warga 1 : “ Maaf.. anda siapa? Sepertinya
wajah saudara sangat tidak asing.”
Warga
itu tidak mengenali sosok Rangkayo Hitam, ia berpakaian layaknya rakyat biasa
Kayo
Hitam : “ Emm.. saya dari negeri
seberang, disini hanya singgah sebentar, kebetulan saya menemukan rambut ini,
jadi saya bermaksud untuk mencari tahu..”
Warga 2 : “ Ini rambut ratu kami, namanya
Mayang Mangurai.”
Warga 3 : “ Benar. Dia sangat cantik,
rambutnya panjang, ia ratu yang baik, adil, dan bijaksana.”
Kayo
Hitam : “ Jika diizinkan, boleh saya
tahu dimanakah ratu kalian?”
Warga 1 : “ Boleh..”
Belum
sempat warga itu menjelaskan, ada dua orang putri pegawai kerajaan datang
menghampiri. Kedua putri itu terkenal dengan sifatnya yang, ah sudahlah!
Putri 1 : “ Ada apa ini?
Putri 2 :
Siapa engkau wahai pemuda?
Putri 3 : Apa yang kau lakukan disini?”
Kayo
Hitam : “ Hmm.. saya hanya singgah di kampung ini, dan saya
ingin mencari pemilik rambut ini.
Putri 2 : “ Itu kan rambut ratu Mayang
Mangurai, kenapa engkau mencarinya, kenapa tidak mencariku saja?”
Putri 1 : “ Hey lihatlah! pemuda ini cukup manis
dan tampan.. sepertinya aku menyukainya..”
Putri 2 : “Aku juga!”
Putri 3 : “ Kalian jangan sembarangan! Mana tau dia penjahat.”
Putri 1 : “ Mana ada penjahat setampan ini,
yaa walau sedikit hitam..
Putri 2 : “ dan sepertinya dia bukan pemuda
biasa”
Kayo
Hitam : “ Maaf.. dapatkah kalian
menunjukkan saya letak istana ratu kalian..?”
Semua
Putri : “ Ssssstttt ….. Oh baiklah.
Mari kami antarkan..”
Ratu Mayang Mangurai sedang
melihat-lihat keadaan dan lingkungan rakyatnya..
Mangurai : “ Wahai rakyat-rakyat ku.. aku ingin
mengucapkan terima kasih, pada kalian yang setia menemaniku dan menjaga ketentraman
Tanah Tumenggung Merah Mato ini dengan amat baik..”
Warga 1 : “ Wahai baginda ratu.. sudah
sepantasnya kami seperti ini. Semua ini berkat sang ratu yang sangat bijaksana
mempin kami. Namun yang mulia, apa tidak sebaiknya yang mulia mencari pasangan
hidup?”
Mangurai : “Hal demikian tidaklah mudah bagiku,
bila aku berpasangan nanti bagaimana aku akan memimpin rakyatku?
Di
tengah perbincangan antara Ratu Mayang Mangurai dan rajyatnya, Orang Kayo Hitam
pun datang..
Kayo
Hitam : “ Akhirnya aku menemukanmu..
salam.. hai putri nan cantik jelita.. Aku telah lama mencari pasangan hidup.
Dan aku menemukan helaian rambutmu yang indah nan halus ini. Wahai ratu Mayang
Mangurai, aku adalah Orang Kayo Hitam. Maukah engkau menikah denganku?”
Semua
Putri : Haaahh…. Sudah kuduga, dia
bukan pemuda sembarangan, dia adalah anak dari Datuk Paduko berhalo yang agung
itu.
Mangurai : “ Wahai Orang Kayo Hitam, meski aku
mengenalimu sebagai Raden. aku tidak bisa begitu saja menerima pinanganmu, aku
mempunyai syarat, pergilah ke pulau jawa dan berikan bunga abadi dari gunung
tertinggi disana.
Kayo
Hitam : “ Baiklah, aku akan pergi
mencari bunga itu. Tunggu aku kembali!
Orang
Kayo Hitam pun pergi mencari bunga yang di maksud oleh sang ratu Mayang
Mangurai. Dengan berbagai rintangan, akhirnya ia pun mendapatkannya dan pergi
menemui Ratu Mayang Mangurai.
Kayo
Hitam : “ Wahai ratu Mayang Mangurai,
kupersembahkan ini untukmu.” (memberikan bunga itu kepada ratu Mayang Mangurai)
Mangurai : “ Ternyata kau berhasil wahai Orang
Kayo Hitam. Engkau memang benar-benar gigih. Sesuai janjiku.. aku mau menikah
dengan mu.”
Orang
Kayo Hitam pun menikah dengan Ratu Mayang Mangurai. Orang Kayo Hitam membawa
istrinya itu menemui ayahanda dan ibundanya.
Sesampainya
disana..
Kayo
Hitam : “ Ayahanda.. ibunda.. aku
datang kemari membawa pendamping hidupku. Namanya Mayang Mangurai..”
Pinang
Masak : “ Akhirnya.. apa yang ibunda
doakan dan ibunda inginkan terkabulkan, semoga engkau bahagia wahai anakku
Orang Kayo Hitam.”
Kayo
Hitam : “Terima kasih ibunda..”
Mangurai : “Terima kasih ibunda..”
Datuk
Berhalo : “ Wahai anakku Orang Kayo Hitam,
aku lihat hidupmu sudah bahagia, kau sudah mendapatkan pendamping hidupmu. Aku
mempunyai sesuatu untuk kau dan istrimu. Ini, kuberikan perahu Kajang Lako dan
2 ekor angsa putih. Pergilah berlayar dan ikuti kemana angsa tersebut pergi.
Dan apabila 2 ekor angsa tersebut berhenti di suatu wilayah hingga 2 hari, maka
tempat itulah dimana kalian akan tinggal.
Kayo
Hitam : “ Baik ayahanda.. terima
kasih. Aku bersama istriku akan pergi sekarang..”
Setelah
menyusuri sungai batang hari kedua angsa tersebut berhenti dan menginap di
sebuah tempat bernama Kampung Tenadang. Dan mereka membangun sebuah kerajaan
baru yang disebut “Tanah Pilih”. Orang kayo hitam melihat di sekitar sungai
batanghari itu banyak sekali ditumbuhi pohon pinang.
Oleh
karena itu, Orang Kayo Hitam menamai daerah itu dengan nama Jambi. Dalam bahasa
jawa, pinang disebut Jambe. Orang kayo hitam mendirikan kerajaan yang secara
turun temurun kerajaan jambi dikuasai oleh anak-anak orang kayo hitam. Seluruh
rakyat dalam kepemimpinannnya hidup dalam damai.