MAS SURYA, PULANGLAH!
Oleh : Khildan Syuhendra Lubis
“waaaaahhh, lembur kau ya’?” timpal johan yang berdiri seketika berhenti di depan kubik meja kerjaku sambil mendongakkan kepalanya ke arahku.
“sedikit lagi, besok pagi aku akan pulang, seharusnya pekerjaan ini sudah aku selesaikan 2 hari yang lalu dan aku sudah bisa langsung pulang……….namun, laporan dari Mella malah menahanku gara gara dia sedang di rumah sakit”. Balas ku dengan hembusan nafas mengeluh.
“bah, serius kaunya? Aku pikir kau sudah mengerjakan laporanmu, jadi ini laporanmu apa laporan mella yang kau…….ahhhhh tak mengerti lah aku ya’”. Kulihat dia menggaruk garuk kepalanya sedang kebingungan.
“kamu kapan pulang?” balasku dengan segera menyeruput kopi hangat yang teranggur di samping layar computer dan mencomot oncom pemberian karso si rekan ob tadi sore.
“aku jam 9 nanti, insyaallah ya’ doakanlah aku biar sampai di tanah medan, nanti pulangnya ku kasih lah kau salak 3 karung ” tawa johan memecah di tengah suasana kantor yang sepi dan menggema di seluruh koridor sela-sela ruangan kantor.
Perasaanku sangat sedih ketika di mana semua orang sudah bisa langsung pulang duduk berbuka puasa terakhir bersama, berjamaah magrib dan tarawih, serta berjalan mengelilingi kampung dengan obor obor yang berkelap kelip bagaikan lampu lampu jalanan Jakarta yang megah, paduan suara anak anak kampung yang mengumandangkan takbir dan ada pula yang menabuh gendang maupun rebana untuk menambah kemeriahan malam tersebut.Gambaran itu membuatku terbang melayang sejenak di saat ku sandarkan kepalaku yang berat di kursi kerja ini.
Perlahan lahan, wajah mak dan bapak muncul di depanku, begitu juga Dwi Puji Cahya dan Tri Santoso tersenyum lembut mesra seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sangat mendalam. Lalu samar samar adikku yang ketiga mengucapkan kata kata yang keluar dari mulut mungilnya “mas, gag pulang, pulanglah mas, pulang!”. Kata kata itu berputar dan menari nari di sekeliling kepalaku, di tengah tengah suara itu kulihat dwi berlari dan memegang kedua bahuku dan mengguncang guncangkan ku dengan keras menambah rasa sakit kepala ini makin menjadi jadi.
“aaaaarrrghhhhh……….iyaaaa iyaaaa” kubuka mataku namun silaunya lampu lampu kantor memaksaku untuk memincingkan mataku kembali akibat terik cahayanya.
“mas surya tidak pulang? Sudah selesai belum mas” suara itu mengejutkan diriku, kulihat karso dengan wajah polos penuh Tanya keheranan memandangku dalam dalam.
“aku pasti ketiduran…….terima kasih yah karso,” ku tepuk bahunya sambil tersenyum.
Ku acuhkan Karso memaku di tempatnya, ku adu jari jari kurusku kembali ke pada tust tust keybord yang sudah menjadi makanan sehari hari mereka, dengan waktu yang menunggu beberapa jam kedepan, aku harus sudah berada di kostan dan mengemas seluruh barang barangku malam ini, agar aku bisa pulang ke kampung halamanku, kampung halaman, di mana seribu kerinduan yang menunggu diriku disana dengan jawaban atas semuanya.
***
Kutarik koper polo dan ransel hitam kulitku keluar pintu bandara adi sumarmo, solo. Udara ini memberhentikanku sejenak, ia seolah olah memberi tahukanku bahwasanya, tak lama lagi, aku akan bersua dengan keluargaku tercinta, dwi, tri, emak dan bapak. Terang saja selama aku di Jakarta, kurang lebih 1 tahun selepas kepergianku merantau ke kota metropolitan, dan bekerja di sebuah perusahaan cooperation meubel proyek dengan negara asing tidak menyempatkanku mencium tanah kelahiranku. Di saat inilah waktu yang tepat di saat libur karyawan terbilang senior, mendapatkan jatah cuti tahunan yang sengaja tak kuambil agar di hari lebaran nanti aku dapat merasakan pesona hangatnya kampung halamanku.
Jam telah menunjukkan pukul 3 lewat 15. Rencanaku tak berjalan dengan baik, aku yang seharusnya bisa tiba di solo pada tengah hari namun karena tubuh lunglai dan mata sayu ini malah mengajakku berlama lama di atas Kasur, memanjakan aku dengan setiap sisi sisinya yang aduhai dan sayang untuk ditinggalkan.
Sekitar 8 panggilan tak terjawab dan 10 pesan diterima ke telephone genggamku. Salah satu pesan itu berbunyi syahdu untuk aku baca, dan mengibakan hati ini hingga ingin menangis tak terbendung.
“mas eka, hati hati di jalan, adek mbak kangen mas, mak dan bapak kaleh kangen mas, ndang matok mas” (mas eka, hati hati di jalan, adek dan kakak kangen mas, mak dan bapak juga kangen mas, cepat pulang mas).
Dari sekian pesan yang kuterima, hanya ini, yang membuatku semangat untuk menapaki jalan keluar gerbang dari bandara ke pinggir jalan kota untuk mendapatkan kendaraan siap antar ke tanah tempat ku dilahirkan. Sebuah taxi aku lambaikan dan berhenti tepat di depanku, seorang bapak tua kira kira berumur sama dengan ayahku keluar mobil dan tersenyum dengan ramah.
“monggo den, kersane kulo mawon” (mari den, biar saya bantu)
dengan sigap bapak itu berusaha membantu ku untuk menurunkan ransel hitamku yang sudah membekaskan keringat di sela sela baju kemeja biru mudaku.
“mpun kulo mawon, jenengan koper mawon teng bagasi, tas e kersane kulo beto” (tidak apa apa pak, tas koper saja yang di bagasi, tas ranselnya biar saya pegang)
dengan kembali ku naikkan lagi tas ranselku ke punggung ku yang hamper bongkok dibuatnya.
“nggeh den”
Tak tega kubantu bapak itu mengangkat koper ku yang kira kira berisi baju setengah lemari untuk seminggu menetap di kampungku.
Di dalam taxi, bapak itu membenarkan kaca spion belakangnya, mataku dan matanya bertemu lewat kaca itu, ia kembali tersenyum ramah, sungguh, ia mengingatkanku pada bapakku.
“ajeng teng pundi?” (mau kemana den)
“nguwun sewu sragen bapak, tulong ter ke teng kecamatan sumberlawangan, desa loro kancangan nggeh ” (mau ke sragen pak, kecamatan sumberlawangan, desa lorokancangan )
ku lihat ia di dalam kaca itu dan kubalas senyumnya sambal kuanggukan kepalaku untuk mengisyaratkannya agar segera bergerak dari tempat ini.
“saking pundi janengan?” (dari mana den)
“saking jakarta” (dari Jakarta)
“mudik to den?” (pulang kampung?)
“nggeh pak, lebaran ngumpul kaleh keluargo” (iya pak, lebaran disini sama keluarga)
“seneng lebaran, kumpul kaleh keluargo, rayine kulo mboten wangsul den, tigang tahun sepindah nembe saget wangsul, nggeh ngenten den ekonomi ne pas pasan. Alhamdullillah jenengan saget wangsul ben tahun” ( senang kumpul bareng keluarga, kalo bapak, sedih anak anak jarang pulang, disini bapak sama istri berdua saja, mereka jarang pulang, kadang sampe 3 tahun sekali den, Alhamdulillah den masih di kasih waktu buat bisa bersama keluarga)
“Nggeh pak” (iya)
Entah mengapa. Mataku panas, sesuatu berjalan dari ujung kaki hingga ke kepalaku, tubuhku bergetar, nafasku berat dan terbata bata, perasaan ini menguat hingga air mata jatuh hingga ke dasar daguku, ku peluk tas ransel ku dengan erat, rasa ini terus menghujam tanpa henti, seolah olah mengikutiku dan menyelimutiku untuk sampai ke tempat yang akan ku tuju, ku sandarkan kepalaku ke dinding, air mata itu terus mengalir, membasahi pertemuan pipi kananku dengan kaca mobil ini, ku dekap kan terus tas ransel ku dengan membayangkan ke empat wajah orang orang yang kucintai selama ini, aku ingin pulang, aku ingin pulang untuk memeluk, mencium, dan menangis bersama kalian. Bapak itu tak ku hiraukan lagi, ku hanya menghadap kearah luar jendela, pepohonan, rumput, hingga rumah penduduk seperti berbicara ke padaku, mereka merasuki pikiranku dengan kerinduan yang tak tersampaikan asanya. perlahan namun pasti, mereka menidurkanku, di dalam bayang bayang wajah mak, bapak,dwi dan tri.
***
Di sebuah ruang tamu kecil, yang tidak pernah berubah di hari terakhir aku meninnggalkannya, di ruang ini semua cerita hidupku berada, bercatkan crem muda menambahkan kesan rindu mengubah gelanggang yang tak bisa aku gambarkan geloranya. Bau kayu dinding ini menusuk mesra ke setiap hidung yang bertamu namun bila engkau keluar darinya baunya begitu sangat indah untuk tidak dilupakan, terdapat banyak photograph tua hitam putih menggantung di sela sayap kiri dinding kayu ruang ini dan sebuah bingkai photo terpampang, aku dengan sebuah toga dan keluargaku tergantung gagah di tengah tengah photograph photograph lainnya. Lalu meja tamu bertaplak kain putih memanjang berkayu meranti hitam terhiasi sebuah asbak kayu kecil barang favorite bapak untuk merokok, tak lupa didepan meja tersebut 3 kursi kayu melengkapi rona suasana ruang keluarga itu, sepasang jendela mengapit sebuah pintu berdiri tegap dan siap terbuka untuk menyambut kedatangan tulang punggung kedua dalam keluarga ini.
“den, den, mpun dugi den” (tuan, sudah sampai)
Gambaran itu kabur dan menghilang perlahan lahan, mataku masih terbawa suasana gambaran tadi, ku pasatin suara itu dengan jelas, ku pandangi sekeliling keluar jendela, suasana pedesaan asri yang kukenal. Lalu, ku lihat sebuah pohon mangga besar rimbun berbuah bergelantung di dalam pagar kayu yang keropos, berdiri bergoyang di buat angin seolah olah melambaikan tangan menyambut kedatanganku.
“pohon manga ee pak” (pohon manga itu)
Pintu mobil ini berhenti tepat di sejajar dengan pagar rumahku yang terbuka, pikiranku mengelabut, tubuhku menggetar dengan hebat, rindu ini kian membesar hingga air mataku tak terbendung di muaranya, ku berlari memanggil mak dan bapak, mereka berdua terbayang bayang tepat di depan wajahku. Kubuka pintu rumah ini, kulihat mak duduk di samping bapak yang terbaring di atas Kasur beralaskan Kasur tipis dan tikar bambu kuning untuk alas tidurnya, di dekat mak sebuah meja kecil menjadi tempat untuk segala macam obat obatan dan sebuah termos air panas diatasnya, serta sebuah handuk kecil di pegang mak yang kira itu terjatuh karena terkejut melihatku berdiri di muka pintu.
“maaaaaakkk…..”
Ku susuri ruang ini menuju mereka, kupeluk mak dengan erat, bau minyak gosok mak, membuatku tak ingin melepaskan tubuhnya yang sudah renta, di lepasnya pelukanku dan tangannya meraba muka ku dengan seksama, pelipir matanya yang mengerut mengeluarkan air mata dan berkaca kaca, hingga aku bisa melihat pantulan wajahku disana.
“maafkan surya mak, maaf surya mak” ku dalamin pelukan itu hingga nafasku terisak dengan keras.
“mpun kersane mboten nopo nopo nak” (sudah tidak apa apa nak) getaran bibir mak menghiasi kata kata yang menyayat hatiku.
Ku toleh kearah bapak, yang berusaha melihat ke arahku, kulihat wajahnya yang tampan dan gagah sekarang tak lagi bercahaya, dadanya bidang namun sekarang kurus naik turun, tangannya yang dulu dapat menggendongku waktu kecil kini terkulai bagai tak bernyawa. Bapak terserang stroke berat sekitar 1 tahun yang lalu, sependerita bapak, aku memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan yang layak di kota untuk membantu bapak dalam berobat, niatku untuk membantu bapak berdagang di tepisnya dengan harapan bahwa aku harus bisa kerja di kota menjadi orang hebat atau pengusaha tidak seperti dirinya yang hanya penjual sayur mayur.
Di balik horden biru tua, kulihat dwi dan tri melempar senyum masing masing ke arahku, dan mendatangi ku bersama dibarengi sebuah pelukan rindu lama yang tak terwujudkan, perlahan namun pasti, kudengar bapak mengucapkan sesuatu dari sepasang bibir nya yang me menyong kearah kiri.
“sur…..ya wes mu…leh” (surya sudah pulang)
THE END


















