Rabu, 29 Juni 2016

Mas Surya, Pulanglah! | Cerita Pendek

MAS SURYA, PULANGLAH!  
Oleh : Khildan Syuhendra Lubis
“waaaaahhh, lembur kau ya’?” timpal johan yang berdiri seketika berhenti di depan kubik meja kerjaku sambil mendongakkan kepalanya ke arahku.
“sedikit lagi, besok pagi aku akan pulang, seharusnya pekerjaan ini sudah aku selesaikan 2 hari yang lalu dan aku sudah bisa langsung pulang……….namun, laporan dari Mella malah menahanku gara gara dia sedang di rumah sakit”. Balas ku dengan hembusan nafas mengeluh.
“bah, serius kaunya? Aku pikir kau sudah mengerjakan laporanmu, jadi ini laporanmu apa laporan mella yang kau…….ahhhhh tak mengerti lah aku ya’”. Kulihat dia menggaruk garuk kepalanya sedang kebingungan.
“kamu kapan pulang?” balasku dengan segera menyeruput kopi hangat yang teranggur di samping layar computer dan mencomot oncom pemberian karso si rekan ob tadi sore.
“aku jam 9 nanti, insyaallah ya’ doakanlah aku biar sampai di tanah medan, nanti pulangnya ku kasih lah kau salak 3 karung ” tawa johan memecah di tengah suasana kantor yang sepi dan menggema di seluruh koridor sela-sela ruangan kantor.
Perasaanku sangat sedih ketika di mana semua orang sudah bisa langsung pulang duduk berbuka puasa terakhir bersama, berjamaah magrib dan tarawih, serta berjalan mengelilingi kampung dengan obor obor yang berkelap kelip bagaikan lampu lampu jalanan Jakarta yang megah, paduan suara anak anak kampung yang mengumandangkan takbir dan ada pula yang menabuh gendang maupun rebana untuk menambah kemeriahan malam tersebut.Gambaran itu membuatku terbang melayang sejenak di saat ku sandarkan kepalaku yang berat di kursi kerja ini.
Perlahan lahan, wajah mak dan bapak muncul di depanku, begitu juga Dwi Puji Cahya dan Tri Santoso tersenyum lembut mesra seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sangat mendalam. Lalu samar samar adikku yang ketiga mengucapkan kata kata yang keluar dari mulut mungilnya “mas, gag pulang, pulanglah mas, pulang!”. Kata kata itu berputar dan menari nari di sekeliling kepalaku, di tengah tengah suara itu kulihat dwi berlari dan memegang kedua bahuku dan mengguncang guncangkan ku dengan keras menambah rasa sakit kepala ini makin menjadi jadi.
“aaaaarrrghhhhh……….iyaaaa iyaaaa” kubuka mataku namun silaunya lampu lampu kantor memaksaku untuk memincingkan mataku kembali akibat terik cahayanya.
“mas surya tidak pulang? Sudah selesai belum mas” suara itu mengejutkan diriku, kulihat karso dengan wajah polos penuh Tanya keheranan memandangku dalam dalam.
“aku pasti ketiduran…….terima kasih yah karso,” ku tepuk bahunya sambil tersenyum.
Ku acuhkan Karso memaku di tempatnya, ku adu jari jari kurusku kembali ke pada tust tust keybord yang sudah menjadi makanan sehari hari mereka, dengan waktu yang menunggu beberapa jam kedepan, aku harus sudah berada di kostan dan mengemas seluruh barang barangku malam ini, agar aku bisa pulang ke kampung halamanku, kampung halaman, di mana seribu kerinduan yang menunggu diriku disana dengan jawaban atas semuanya.
***
Kutarik koper polo dan ransel hitam kulitku keluar pintu bandara adi sumarmo, solo. Udara ini memberhentikanku sejenak, ia seolah olah memberi tahukanku bahwasanya, tak lama lagi, aku akan bersua dengan keluargaku tercinta, dwi, tri, emak dan bapak. Terang saja selama aku di Jakarta, kurang lebih 1 tahun selepas kepergianku merantau ke kota metropolitan, dan bekerja di sebuah perusahaan cooperation meubel proyek dengan negara asing tidak menyempatkanku mencium tanah kelahiranku. Di saat inilah waktu yang tepat di saat libur karyawan terbilang senior, mendapatkan jatah cuti tahunan yang sengaja tak kuambil agar di hari lebaran nanti aku dapat merasakan pesona hangatnya kampung halamanku.
Jam telah menunjukkan pukul 3 lewat 15. Rencanaku tak berjalan dengan baik, aku yang seharusnya bisa tiba di solo pada tengah hari namun karena tubuh lunglai dan mata sayu ini malah mengajakku berlama lama di atas Kasur, memanjakan aku dengan setiap sisi sisinya yang aduhai dan sayang untuk ditinggalkan.
Sekitar 8 panggilan tak terjawab dan 10 pesan diterima ke telephone genggamku. Salah satu pesan itu berbunyi syahdu untuk aku baca, dan mengibakan hati ini hingga ingin menangis tak terbendung.
mas eka, hati hati di jalan, adek mbak kangen mas, mak dan bapak kaleh kangen mas, ndang matok mas” (mas eka, hati hati di jalan, adek dan kakak kangen mas, mak dan bapak juga kangen mas, cepat pulang mas).
Dari sekian pesan yang kuterima, hanya ini, yang membuatku semangat untuk menapaki jalan keluar gerbang dari bandara ke pinggir jalan kota untuk mendapatkan kendaraan siap antar ke tanah tempat ku dilahirkan. Sebuah taxi aku lambaikan dan berhenti tepat di depanku, seorang bapak tua kira kira berumur sama dengan ayahku keluar mobil dan tersenyum dengan ramah.
“monggo den, kersane kulo mawon” (mari den, biar saya bantu)
dengan sigap bapak itu berusaha membantu ku untuk menurunkan ransel hitamku yang sudah membekaskan keringat di sela sela baju kemeja biru mudaku.
“mpun kulo mawon, jenengan koper mawon teng bagasi, tas e kersane kulo beto” (tidak apa apa pak, tas koper saja yang di bagasi, tas ranselnya biar saya pegang)
dengan kembali ku naikkan lagi tas ranselku ke punggung ku yang hamper bongkok dibuatnya.
“nggeh den”
Tak tega kubantu bapak itu mengangkat koper ku yang kira kira berisi baju setengah lemari untuk seminggu menetap di kampungku.
Di dalam taxi, bapak itu membenarkan kaca spion belakangnya, mataku dan matanya bertemu lewat kaca itu, ia kembali tersenyum ramah, sungguh, ia mengingatkanku pada bapakku.
“ajeng teng pundi?” (mau kemana den)
“nguwun sewu sragen bapak, tulong ter ke teng kecamatan sumberlawangan, desa loro kancangan nggeh ” (mau ke sragen pak, kecamatan sumberlawangan, desa lorokancangan )
ku lihat ia di dalam kaca itu dan kubalas senyumnya sambal kuanggukan kepalaku untuk mengisyaratkannya agar segera bergerak dari tempat ini.
“saking pundi janengan?” (dari mana den)
“saking jakarta” (dari Jakarta)
“mudik to den?” (pulang kampung?)
“nggeh pak, lebaran ngumpul kaleh keluargo” (iya pak, lebaran disini sama keluarga)
“seneng lebaran, kumpul kaleh keluargo, rayine kulo mboten wangsul den, tigang tahun sepindah nembe saget wangsul, nggeh ngenten den ekonomi ne pas pasan. Alhamdullillah jenengan saget wangsul ben tahun” ( senang kumpul bareng keluarga, kalo bapak, sedih anak anak jarang pulang, disini bapak sama istri berdua saja, mereka jarang pulang, kadang sampe 3 tahun sekali den, Alhamdulillah den masih di kasih waktu buat bisa bersama keluarga)
“Nggeh pak” (iya)
Entah mengapa. Mataku panas, sesuatu berjalan dari ujung kaki hingga ke kepalaku, tubuhku bergetar, nafasku berat dan terbata bata, perasaan ini menguat hingga air mata jatuh hingga ke dasar daguku, ku peluk tas ransel ku dengan erat, rasa ini terus menghujam tanpa henti, seolah olah mengikutiku dan menyelimutiku untuk sampai ke tempat yang akan ku tuju, ku sandarkan kepalaku ke dinding, air mata itu terus mengalir, membasahi pertemuan pipi kananku dengan kaca mobil ini, ku dekap kan terus tas ransel ku dengan membayangkan ke empat wajah orang orang yang kucintai selama ini, aku ingin pulang, aku ingin pulang untuk memeluk, mencium, dan menangis bersama kalian. Bapak itu tak ku hiraukan lagi, ku hanya menghadap kearah luar jendela, pepohonan, rumput, hingga rumah penduduk seperti berbicara ke padaku, mereka merasuki pikiranku dengan kerinduan yang tak tersampaikan asanya. perlahan namun pasti, mereka menidurkanku, di dalam bayang bayang wajah mak, bapak,dwi dan tri.
***

Di sebuah ruang tamu kecil, yang tidak pernah berubah di hari terakhir aku meninnggalkannya, di ruang ini semua cerita hidupku berada, bercatkan crem muda menambahkan kesan rindu mengubah gelanggang yang tak bisa aku gambarkan geloranya. Bau kayu dinding ini menusuk mesra ke setiap hidung yang bertamu namun bila engkau keluar darinya baunya begitu sangat indah untuk tidak dilupakan, terdapat banyak photograph tua hitam putih menggantung di sela sayap kiri dinding kayu ruang ini dan sebuah bingkai photo terpampang, aku dengan sebuah toga dan keluargaku tergantung gagah di tengah tengah photograph photograph lainnya. Lalu meja tamu bertaplak kain putih memanjang berkayu meranti hitam terhiasi sebuah asbak kayu kecil barang favorite bapak untuk merokok, tak lupa didepan meja tersebut 3 kursi kayu melengkapi rona suasana ruang keluarga itu, sepasang jendela mengapit sebuah pintu berdiri tegap dan siap terbuka untuk menyambut kedatangan tulang punggung kedua dalam keluarga ini.
“den, den, mpun dugi den” (tuan, sudah sampai)
Gambaran itu kabur dan menghilang perlahan lahan, mataku masih terbawa suasana gambaran tadi, ku pasatin suara itu dengan jelas, ku pandangi sekeliling keluar jendela, suasana pedesaan asri yang kukenal. Lalu, ku lihat sebuah pohon mangga besar rimbun berbuah bergelantung di dalam pagar kayu yang keropos, berdiri bergoyang di buat angin seolah olah melambaikan tangan menyambut kedatanganku.
“pohon manga ee pak” (pohon manga itu)
Pintu mobil ini berhenti tepat di sejajar dengan pagar rumahku yang terbuka, pikiranku mengelabut, tubuhku menggetar dengan hebat, rindu ini kian membesar hingga air mataku tak terbendung di muaranya, ku berlari memanggil mak dan bapak, mereka berdua terbayang bayang tepat di depan wajahku. Kubuka pintu rumah ini, kulihat mak duduk di samping bapak yang terbaring di atas Kasur beralaskan Kasur tipis dan tikar bambu kuning untuk alas tidurnya, di dekat mak sebuah meja kecil menjadi tempat untuk segala macam obat obatan dan sebuah termos air panas diatasnya, serta sebuah handuk kecil di pegang mak yang kira itu terjatuh karena terkejut melihatku berdiri di muka pintu.
“maaaaaakkk…..”
Ku susuri ruang ini menuju mereka, kupeluk mak dengan erat, bau minyak gosok mak, membuatku tak ingin melepaskan tubuhnya yang sudah renta, di lepasnya pelukanku dan tangannya meraba muka ku dengan seksama, pelipir matanya yang mengerut mengeluarkan air mata dan berkaca kaca, hingga aku bisa melihat pantulan wajahku disana.
“maafkan surya mak, maaf surya mak” ku dalamin pelukan itu hingga nafasku terisak dengan keras.
“mpun kersane mboten nopo nopo nak” (sudah tidak apa apa nak) getaran bibir mak menghiasi kata kata yang menyayat hatiku.
Ku toleh kearah bapak, yang berusaha melihat ke arahku, kulihat wajahnya yang tampan dan gagah sekarang tak lagi bercahaya, dadanya bidang namun sekarang kurus naik turun, tangannya yang dulu dapat menggendongku waktu kecil kini terkulai bagai tak bernyawa. Bapak terserang stroke berat sekitar 1 tahun yang lalu, sependerita bapak, aku memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan yang layak di kota untuk membantu bapak dalam berobat, niatku untuk membantu bapak berdagang di tepisnya dengan harapan bahwa aku harus bisa kerja di kota menjadi orang hebat atau pengusaha tidak seperti dirinya yang hanya penjual sayur mayur.
Di balik horden biru tua, kulihat dwi dan tri melempar senyum masing masing ke arahku, dan mendatangi ku bersama dibarengi sebuah pelukan rindu lama yang tak terwujudkan, perlahan namun pasti, kudengar bapak mengucapkan sesuatu dari sepasang bibir nya yang me menyong kearah kiri.
“sur…..ya wes mu…leh” (surya sudah pulang)

THE END

Senin, 27 Juni 2016

Jika Kelak | Sajak

Jika Kelak

Oleh       : Hadistiawati
Tanggal  : 27 Juni 2016

Jika kelak aku menikah dengan yang sebaya, aku ingin melukis kisah semisal 'Ali dan Fathimatuzzahra. Keduanya, saling mencintai karena iman. Fathimah yang sabar walau suami pulang tanpa membawa harta, juga Ali yang tetap bertanggung jawab meski harus bekerja sebagai kuli dengan gaji segenggam kurma. Ah,  indahnya...
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih muda, aku ingin memahat cerita seperti Usman bin 'Affan dan Naila as-Syam. Keduanya, tetap menyayangi walau yang satu telah beruban dan yang satu lagi berumur belasan. Duhai, sebaik-baik guru adalah suami yang shaleh. Maka Naila belajar pada Usman yang lebih dewasa.  Belajar untuk semakin menshalehahkan diri, hingga, ia merelakan jemarinya putus karena menahan pedang musuh yang hendak membunuh suaminya. Dan seba'da Usman wafat, konon, Naila mencakar wajah cantiknya agar tak ada seorang pun yang mau melamarnya. Ia amat mencintai kekasih jiwanya.
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih tua,  aku ingin mengukir cinta laksana Rasulillah dan Khadijah al-Kubra. Keduanya, saling mengasihi sekaligus menebar cinta pada sesama. Khadijah adalah sebaik-baik istri, ia senantiasa menenangkan seperti seorang ibu, ia selalu menemani seolah sahabat sejati, ia mengorbankan harta benda demi dakwah sang suami. Dan sungguh hanya Khadijah-lah, cinta pertama yang tak pernah dimadu oleh sang Rasul.
.
Di atas pernikahan, umur tak lagi jadi soalan. Sebab nikah adalah proses pendewasaan diri, proses perbaikan diri, dan proses menshalehakan diri. Sesekali,  jadikan pasangan kita sebagai guru, kita hormat padanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai sahabat, kita tertawa bersamanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai adik, kita manjakan ia sepenuhnya.
.
Sekali lagi setelah menikah, yang terpenting bukan tentang usia berapa, tapi tentang perjalanan seperti apa. Dan pastikan, perjalanan rumah tangga kita seperti pelangi, banyak warna yang menaungi.

- Hadistiawati

Dikutip 27 Juni 2016

Kamis, 23 Juni 2016

Dua Merpati | Cerita Pendek

Dua Merpati
Oleh : Khildan Syuhendra Lubis



Kuliah dan tinggal sebatang kara di negeri orang sangat lah sulit, dimana ketika engkau sedang sakit, hanya tubuh ini lah yang mampu bertahan,ketika hati sedang dilanda rindu yang berkecambuk di dada,hanya telephone dan video call yang dapat mengobati rasa beratnya terpisah dengan orang orang yang kita sayangi di kampong halaman,disaat orang orang berjalan berdua bergandengan mesra, aku hanya dapat melipatkan tanganku di dada,begitu naïf sekali pikirku.

Di langit teduh ini,dan cahaya kuning sedikit tidak menyilaukan,Kuhentikan tulisan novel di laptop pink kesayanganku,aroma kopi latte yang kupesan tadi masih menggelitik lubang hidungku,membuat perasaan nyaman dan tenang,namun bagaimana keadaan hati dapat tenang,apabila di sekelilingku banyak orang orang yang memadu kasih dengan pasangannya masing masing,tepat di depan mejaku nomor 7 di hadapanku ada 2 ekor sepasang burung merpati yang sedang bercanda mesra,si laki laki memakai setelan blazer biru dongker dan memiliki hidung khas orang orang sini,lalu teman perempuannya sangat manis sekali dengan berstelan top knit berwarna kuning cyan dan memiliki mata berwarna hijau terang,aku sangat iri sekali ketika sang merpati jantan mencium tangan sang merpati betina,ahhhh! Kenapa aku harus melihat seperti ini hari ini.

Ku tolehkan kepalaku ke arah hp yang tergeletak di samping laptopku,kuambil dan kucoba geser layarnya,namun harapanku untuk bila ada pesan email masuk dari pangeran impian yang jauh di kampung halaman tak kunjung ada, sudah sekitar 2 bulan Andi tak memberi kabar padaku,aku bagai merpati betina yang kehilangan jalan pulang,tak tahu arah tujuan mencari kemana? email,skype,terkadang hingga ku telephone selalu dia berkata sibuk, sibuk, dan sibuk, sesibuk apakah dia hingga tak bisa mengubris keberadaanku yang kesepian ini,dengan hati jengkel kuletakkan hp ku kembali dengan rasa dongkol,lebih baik aku kembali ke apartement gumamku, kurapikan seluruh barang barangku dan kukemas laptopku tadi, tak lupa juga kuletakkan tagihan bill kopiku tadi dan melebihkan uang tipnya untuk si pelayan. Di saat yang bersamaan seorang laki laki bersepeda yang menggunakan baju bergaris merah putih dan berkacamata kotak berhenti dan memberikan sebuah kertas kecil di depanku.
Dengan sigap si laki laki tadi berkata.
“c’est pour tu!” kata laki laki tak dikenal itu.
“que c’est?” balasku.

Ia memberikan sebuah surat kecil berwarna putih dan dihiasi ornament ornament pink di sisi sisi suratnya,setelah aku menerima benda ini,laki laki itu mengayuh kembali sepedanya,dengan wajah terbelalak aku memperhatikan laki laki itu hingga ia hilang di sebuah persimpangan,setelah aku tersadar dari lamunanku, aku mencoba membuka surat tadi, di surat tersebut bertuliskan sebuah kalimat perintah.

“allera art gallery dans rue ville no. 18 entrer et monter!” bunyi tulisan tersebut.

Aku masih ragu,apa kah aku harus ketempat ini atau tidak,bagaimana jika ini jebakan seseorang yang ingin melukaiku,atau janganjangan ini sebuah kejutan untukku,namun ketika hatiku bergejolak berlawanan tujuan,kehendakku untuk ke sana menang,aku yang pergi dibawa niat dan rasa penasaranku ke tempat itu menuntunku untuk tiba disana.

Tak cukup lama aku harus tiba,sekitar 10 menit menggunakan taxi aku bisa kemari, dengan berbekal alamat seadanya si supir bisa mengantarku dengan tanpa tersesat,di hadapanku sudah terdapat sebuah gedung tua tinggi berlantai 3 pikirku dan bercatkan putih, di dinding atasnya bertuliskan “ART GALLERY” besar sekali, di jendela luarnya sangat cantik, sebuah jendela yang dibawah jendelanya ada sebuah kotak bersegi panjang yang di dalamnya tumbuh bunga bunga daisy berwarna kuning dan merah keemasan,pintunya 2 kali besar dari driku,gagang nya berwarna coklat emas,rasa keingintahuanku bertambah besar saat aku membuka pintu tersebut,aku di sambut 2 orang gadis kembar di kanan dan kiri sisi pintunya,mereka memakai baju yang sama,bergaris garis kuning dan putih,mereka meminta jubah jaketku dan topi koboy serta tas kecilku,udara hangat ruangan ini membuatku makin bersemangat.

“il dans en haut!”  kata gadis yang sebelah kanan,dan gadis yang disebelah kiri tersenyum riang dan menunjukkan ku arah sebuahtangga.

Aku menaiki sebuah tangga panjang ke atas sekitar 12 anak tangga dan membelok ke kanan untuk menuju lantai 2,betapa terkejutnya,di dinding samping tangga tersebut terpasang bingkai bingkai foto aku dan andi, foto pertama dimana aku waktu itu mengadakan pesta kelulusanku di sma 6 malang,aku naiki lagi tangga dan kutemui foto kedua,foto tersebut dimana aku dan andi menaiki kuda berlibur saat itu di bandung,kunaiki lagi di foto ketiga foto dimana aku sedang berada di rumah sakit karena serangan maghku yang akut dan disebelahnya andi memotret diriku dan dirinya, di foto keempat aku dan andi yang saat itu makan malam di sebuah pendopo saung di kawasan  Surabaya,di foto kelima foto andi yang menggunakan kostum badut di ulang tahunku,sekitar 30 foto yang menghiasi dinding dinding lorong anak tangga menuju lantai dua,saat telah sampai dilantai dua,aku mendapati sebuah pintu yang terbuka sedikit,kuiintip kedalam dan ku harapkan ada andi di dalam ruangan tersebut,namun yang aku lihat hanyalah suasana ruangan kosong bercat putih bersih yang sunyi,tak ada angin tak ada bunyi,sepi sekali,namun penglihatanku tertuju pada sebuah benda yang tertancap di ujung ruangan ini,sebuah frame bingkai kosong besar berukuran foto keluarga terpampang terpaku.

Banyak Tanya dikepalaku,kenapa bingkai foto ini kosong? Dan kenapa hanya bingkai ini saja yang kosong? Aku berjalan menuju bingkai tersebut,dan kutemui sebuah kertas kecil terlem di bawah bingkainya yang bertuliskan.

“akankah bingkai ini kita isi dengan sebuah foto yang membuat kita selalu bersama hingga akhir hayat?”

Begitu kata katanya,aku terdiam sejenak,mataku berbinar,tanganku bergetar kecil,dan hawa hawa haru sebentar lagi akan datang kepadaku,lalu tiba tiba terdengar suara yang sangat sangat aku rindukan berkumandang dan bergema di ruangan ini.
“Anita naiklah kelantai tiga lewat pintu yang ada disamping kirimu naikilah tangganya dan temui aku disini….” Suara andi berseru.

Aku tersadar dalam lamunanku, aku baru melihat ada pintu di kiriku, tanpa aku pikir kembali, aku segera membukanya dan ku langkahkan kakiku dengan sepatu hells tinggiku ini dengan tempo cepat menaiki anak demi anak tangga tersebut,sampailah aku di sebuah pintu terakhir pikirku, kubuka pintu itu, karena suasana gelap lorong tangga ini, ketika kubuka, cahaya sinarluar matahari menyilaukan mataku dan semua yang aku lihat tak begitu jelas namun sangat jelas untuk ku ketika aku melihat seorang laki laki berdiri disebrang atap gedung ini,dia memakai setelan tuxedo rapi,dihiasi senyum merekah dan wajah yang ceria sedang melemparkan aura penuh cinta kepadaku.

Iya, Andi! Dia adalah laki laki yang berdiri itu,disekelilingnya sudah berdiri kedua orang tua ku dan orang tuanya serta beberapa teman teman ku yang semuanya memakai baju bergaris pink putih,entah dari kapan aku menyukai dengan yang namanya setelan fashion garis garis putih seperti baju tahanan narapidana,namun bagiku itu cukup unik,sudah tentu pasti andi tahu dengan kesukaanku.

Dia berlari menjemputku dan memegang kedua tanganku,hangat telapak tangannya membuat hatiku tenang,entah apa yang akan di katakannya,namun dari sesuatu yang aku pikirkan aku telah tahu akan apa yang terjadi.

“Anita walaupun aku selalu berlaku bodoh dihadapanmu,walaupun aku tidak pernah mendengar kata kata darimu, walaupun aku selalu membuatmu dongkol dengan sifat sifatku. Ketahuilah, hingga Tuhan mengambil nafas yang ada pada tubuhku ini, di setiap nafasku itu selalu ada kamu, di sela sela nadi ini selalu memacu wajah dirimu,mungkin aku jauh dari laki laki sempurna yang ada di mana mana,tapi kau tahu bersamamu membuatku merasa sempurna”. Tutur kata Andi kepadaku.

Aku hanya diam dan tak tersadar aku menitikkan air mata,jantungku berdegap kencang seketika, tubuhku lemas, kepalaku berputar tak karuan, aku benar benar gugup sangat sangat gugup.

Lalu Andi berlutut di hadapanku, dengan kaki kiri yang menyentuh permukaan atap gedung ini ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon di tangan kanannya,dengan tanganku yang masih di genggamnya,ambisi dia mengucapkan sebuah kata kata yang tak pernah aku duga, ia mengatakan pelamaran yang benar benar membuatku melayang dibuatnya.

“anita, vouloir marier avec je?” pinta andi.
“oui,oui andi oui……” aku menjawab

Segera ia melingkarkan cincin yang ia berikan kepadaku,lalu kecupan penuh kasih sayang mendarat di dahiku,ia lalu memelukku dengan erat, sorak sorai keluarga dan teman temanku gembira sekali, mereka meneriaki hari jadi aku dan andi saat ini.

Di suasana sore kota ini,kami berdua berpelukan dibawah sinar matahari yang mulai redup,kebahagiaan yang akan aku hadapi nantinya bersama pasangannku sekarang sudah tak sabar lagi,kenangan yang tak pernah padam oleh api,lamaran ini akan menjadi kenangan termanis dalam hidupku,kini si merpati betina menemukan jalannya bersama pujaannya sang merpati jantan,lamaran terindah yang pernah ada dalam hidupku,lamaran pernikahan di atas gedung dekat menara Eiffel PARIS.


TAMAT



NB.

c'est pour tu! : Ini untukmu

que c’est? : apaini?

aller a art gallerydans rue ville no. 18 entrer et monter! : pergike art gallery di jalanville no.18 masuk dan naiklah!

il dans en haut! : dia di atas!

anita, vouloir marier avec je? : anita,maukah kau menikah dengan ku?

Oui,oui andi oui! : iya andi iya.



Selasa, 21 Juni 2016

Hijab Love Story #5 & #6 | Review

Kembali lagi deh, masih di review film Hijab Love Story, nah sekarang udah nyampe episoede 5 & 6 aja nih, cepet banget ternyata kemunculannya :D
Hehe tapi gapapa, makin cepet muncul seri yang terbaru justru makin terus terinspirasi, oh iya, kayanya FMM atau Film Maker Muslim sengaja memunculkan episodenya dua-dua yah, 1 dan 2 bareng, 3 dan 4 bareng, kemudian sekarang yang ke-5 dan 6 bareng juga, kenapa ga satu-satu aja pikirku, kenapa harus barengan :D

Ga sabar memang nungguin film ini buat seri episode berikutnya, soalnya bagus banget sih ni film, sumpah. Bagi kamu yang emang hobi nontonin film pendek, aku saranin banget buat nonton yang ini, rugi kalo ngak, beneran deh.

Yak, langsung aja deh ke story line nya, episode yang ke #5 sengaja aku gabungin sama episode ke #6 , soalnya biar singkat dan sekalian aja, :D ga ribet juga harus baca tiap seri dalam satu postingan. Ya kan guys?
Judul episode ke-5 kali ini “Kata Lenny dan Irma” , dari judulnya bisa kita liat kalo Lenny dan Irma kan temennya si Rena tuh, mungkin ada gossip-gosipan disini ya :D
Waktu film dimulai, muncullah seorang sosok lelaki pakai kacamata, yang turun dari mobil, siapa dia? Eh, malah intro -_- 



kebiasaan nih film dulu secumlik baru intro, nah lanjut si Reni datang dengan dandanan acak-acakan, alis gak simetris, kantung mata lebam, jilbab kemana-mana, dan si Lenni bilang kalau si Renni habis tarung dengan Rocky Balboa (petinju ga sih). Dan terus ngomongin masalah “Anandito” siapa? Penyanyi sih katanya,

Kemudian, dating si Anandito dan kebetulan ketemu dengan si Lenni waktu lagi beli makanan buat temen-temennya, si Dito ini ternyata nyariin bos Kantornya si Lenni, pak Moko. Sampai nya di kantor, emhhh si Irma sama Rena langsung dah tuh terpana bingit, udah ijo matanya liat kegantengan si Dito ini. Haha :D




Lanjut udah sampai ke episode ke #6
Cerita dilanjutkan dengan bertamunya Danang dan ungkapan kemunduran si Danang di depan orang tua Rena, dan kakak juga keponakannya si Isha, Danang ngerasa memang cinta itu harus ikhlas untuk melepaskan.
Eh, rupa-rupanya cerita disini merupakan flashback dari obrolan-obrolan dengan Irma dan Lenni. Disini aku ngerasa terkejut, loh dimana si Lenni yang gayanya tomboy rambut di urai di depan pakai topi ala Jamrud di kepala. Mana? Rupanya dia udah berhijab dan WHATTT!!!! Lucu abis, ga ada di ceritain sih kenapa koq malah bisa berhijab gitu , haha :D


Tapi seneng banget, liat mukanya duh .. cakep deh dibalut dengan hijab berwarna ungu tua, wajahnya jadi lebih imut dari sebelumnya yang gak berhijab, asik :D

Cerita episode 6 di akhiri dengan telpon dari Azis, iya Azis si kocak itu. Dia nelpon kalo ternyata dia di jodohin, dari kata-katanya sih gitu, cerita kembali sedih.
Di akhir film rupa-rupanya si Azis udah ada di depan orang tua si Rena, oh ternyata ini merupakan scenario si Azis dan ortunya si Rena buat ngasih kejutan kali ya, dari film nya kita tahu kalau sebenarnya si Rena memang suka sama si Azis,




Gak sabar, pengen lihat episode lanjutanya, ampun dah .. pokoknya pengen cepeten kelar nih cerita, penasaran dibuatnya apa lagi selanjutnya yaaa -_-

Sedikit ngerasa alay deh, :D

Senin, 20 Juni 2016

Seleksi ICHIYEP 2016 Bersama Anakmuda.net | Informasi

Pengalaman mengikuti PPAN beberapa bulan yang lalu ternyata memang cukup menjadi pengalaman yang menyenangkan dan jadi kesan tersendiri untuk pribadi. Dari kompetisi itu lah, lama kelamaan hati ini seperti terbakar untuk terus ikut uji coba dalam setiap kegiatan apapun.

Nah! kebetulan banget dari Kemenpora mengadakan lagi kegiatan lain yang langsung dan mirip-mirip dengan seleksi PPAN, tapi yang kerenyya seleksi bahan bakal dilakukan melalui online, dengan di setting .. cailah bahasanya setting :D
Yak dengan kerja sama ( anakmuda.net ) kegiatan ini bakalan dilaksanakan.

Aku pun merasa pengen cobain gitu, yah tapi apa daya, kegiatan PPAN ini memang bener-bener dicari orang-orang yang leadershipnya jos, dan gak main-main ya.. Dan persyaratannya memang sama-sama ketat seperti seleksi PPAN daerah :)
Nah hari ini saya mau kasih infonya aja deh sama temen-temen dan juga saya nyobain apply, siapa tau Tuhan ngasih rejeki dadakan kan gitu :D #ngarep

Buat yang mau daftar seleksinya, kalian cukup kunjungi laman --- >   anakmuda.net

terus isi aja beberapa form yang disediakan sesuai dengan yang diminta nya yaa, kemudian kalo udah berhasil kalian pilih aja ICHYEP 2016 , ini nama program pertukaran pemuda ke China yang digandrung :)



Lalu masukkan saja berkas-berkas sesuai yang diminta, kalian cuma perlu scan trus upload dalam format *JPG


Nah yang ini mah surat keterangan sehat ya, :)



Kemudian lanjut, ke bagian isi mengisi cerita, kalian bakal lelah disini kalau koneksi internet kalian jelek, jadi ada baiknya kalian catat pertanyaannya, buat ceritanya dalam word atau apa gitu, ntar tinggal di copas aja biar enak :D .. Isi aja semampu kalian sesuai permintaan :)

Education Background
Disini kalian diminta untuk memasukkan latar belakang pendidikan kalian, dari SD sampe perguruan tinggi deh, biar lengkap semua dan jos :D

Occupation
Masukkan saja kerjaan kalian, jika memang sudah bekerja, kalau belum yah bisa ditulis aja pake kata "Student" aja.

Please tell us why are you interested with People's Republic of China
Ceritakan ketertarikan kalian pada Republik Rakyat Cina, apa yang membuat kalian hingga sampe punya keinginan mengikuti program ginian

What can you contribute,
either culturally (ex: dance, sing) or skill-wise (ex: photography, public-speaking), to the program?
Intinya, apa yang bisa kalian lakukan, kalian punya kemampuan apa? so, tunjukkan


Please share the URL / links to the documentation(s) of your chosen contribution
pilih aja, misalkan kalian bisa dance, masukkan url (alamat web) dance kalian, trus tautkan aja.. jadi, kemungkinan panitia bakalan nyeleksi lewat nonton :D


The most interesting achievement / experience in your life that is relevant to the program
Hal-hal, atau prestasi yang paling greget bagi kalian dan ada hubungannya dengan program ini, yah bisa jadi kalian masukkan kalian pernah mengikuti lomba public speaking misal, trus ikut kegiatan sosial bersama komunitas ataupun yang lain

Should you be chosen, how would the experience help you and the others in the future?
Ini pertanyaan biasanya kalau di wawancara langsung kaya' begini deh

A : Kenapa kami harus memilih kamu?
B : Karena saya punya ... bisa ... dapat ... untuk ....

What is your Post Program Activity?
Yap, tinggal kalian ceritakan saja, kegiatan apa yang akan kalian lakukan setelah kalian kembali dari mengikuti kegiatan ini
gitu doank sih, ga susah :D


Lankah terakhirnya, kalian cukup klik register, dan siap-siap jantung berdegup kencang dan merasakan sensasi hebat menunggu harapan .. apakah kalian bakal terpilih ataupun tidak
SELAMAT MENCOBA! Kita berada di posisi yang sama, LET'S FIGHT!


      - Danang Budi Pramono

Minggu, 19 Juni 2016

Pesantren Ramadhan 2016 | Sahabat Ilmu Jambi


Sabtu malam minggu ini menjadi malam yang agaknya jadi hal yang mengesankan bagiku, bermalam bersama anak-anak panti asuhan dan Relawan Sahabat Ilmu Jambi.
Malam ini jadi malam minggu yang beda, yang biasanya cuma tiduran di kos, kalau ngak ya main game PC atau apa gitu yang gak bermanfaat sama sekali.

Karna memang kebetulan lagi bener-bener kepengen beraktifitas yang bermanfaat, yah makanya ngajukan diri buat jadi relawan di acara itu, awalnya sih agak males ya, wajar lah namanya juga kegiatan sosial yg otomatis bakalan sibuk dan rame-ramean.





Rabu, 15 Juni 2016

Hijab Love Story #1 | Review

Yookoso,

Salam jumpa teman-teman sahabat setia pembaca blog. Hari ini aku mau me-review Film Pendek Webseries. Webseries? Apaan tuh? Pasti bakalan asing bagi kamu denger kata ini, ya jadi webseries itu maksudnya film pendek yang di upload melalui viral video online di internet, kaya yang di Youtube gitu. dan dibuat dalam seri-seri bersambung. Juga bukan di putar di channel TV Indonesia apa lagi di 21 :D hkhkhk












Nah, sesuai dengan tema di atas, Film Pendek yang masih tergolong baru #HijabLoveStory, bisa di lihat deh di Channel Youtube nya “Dream ID” , film ini dimotori oleh Film Maker Muslim dan sponsornya Wardah.
Kembali ke laptop, ngomongin soal Hijab, pasti film ini di identikkan dengan yang Islam nya kental, trus isinya banyak nyeramahin.. Eitz, ternyata engak loh, malahan disini semua di kupas tanpa ada embel-embel nyeramahinnya kayak sinetron-sinetron gitu.. hehehe :D

Di episode #1 ini, jadi episode pemuka jalan cerita film pendek ini,diawali dengan scene berlokasi di Bandung (Kota Geulis) begitu aku nyebutnya, film ini menceritakan tokoh utama “Renata Puspitasari”, seorang blogger yang baru wisuda dan langsung di jodohin sama seseorang yang namanya Danang, anak dari sahabat ayah nya Rena, tanpa persetujuan Rena sendiri. Terlebih lagi esok hari Danang dan keluarganya bakalan datang kerumah. Tapi sih, yah si Rena nya ngak mau tuh di jodohin, alasanya pengen berkarir dulu.

 
Kemudian, scene di alihkan ke orang lain, cewek dan keliatan agak tomboy lagi mainin DOTA, :D , pas lagi asik-asiknya ditegur sama  cowok yang bilang “Len, main mulu”, “main? Eng … engak koq pak,” , “Tuh healer lu mati!” dari situ keliatan deh kalau yang negur itu atasannya. Kemudian, si bos minta buat infoin panggilan kerja untuk si Blogger, iya si Rena tadi. Tulalit-tulalit, telpon bordering, eh bukan .. langsung di angkat aja sama si Rena, dan dia kegirangan banget karna tau kalau di terima dan dipanggil buat langsung kerja di Jakarta. Disini, alay nya bener-bener deh, sumpah. Biasa cewek kalo lagi seneng mah ekspresinya gimana gitu, paham lah kan :D ..


Terjadi cekcok antara Rena dengan ayah sama bundanya, mengenai perjodohan si Rena, dan dia tetep bersikeras buat menolak. Eh, rupa-rupanya jalan cerita udah sampe aja ke Jakarta, di rumah kakak perempuannya si Rena jeng, jeng, jeng Ri ….. Sha, Risha deh pokok n amah. Pas lagi nyeritain kisah nya yang barusan. Yah bisa di bilang ni anak kabur dari rumah -_- , tapi ninggalin sepucuk dan secarik kertas wasiat untuk mereka (orang tua)


Si mbok, pembantu kakak nya Rena tiba-tiba nyeletuk aja “widih Non,  itu kaya kisahnya di film-film itu lho, kisah Siti Nurhaliza, betapa ku cinta padamu”, “Siti Nurbaya mbok”, “walah,  kan masih sodaraan, jadi boleh salah sedikit”, Dasar si mbok ini mah, hehe .. kemudian ada percakapan minta izin gitu deh ke Kakak buat tinggal, tapi dengan syarat di minta buat jagain si Risha, anaknya kurasa, trus siapa donk nama dia ini? Duhh… trus Rena minta sedikit ongkos jalan gitu. :D


Scene berubah ke cowok di dalam mobil lagi nelpon temen “iya, calon istriku katanya kabur dari rumah, katanya gamau aku nikahin, iya makanya ini ke Jakarta, aku di amanahin sama orang tuanya, pas banget aku punya kerja di Jakarta” gitu, salam dan telpon di tutup.

Terakhir si temennya yang di telpon tadi, di tanya sama cewek, siapa lagi si ini pikirku dan langsung nanyain, pake Bahasa Jepang bok, “Dare Desuka?” yang artinya “siapa itu?” ,”apa saying?” .” ah sorry, siapa yang tadi panggilan telvon?” , “Oh, Danang, Mi” wah anjirr… namaku di sebut, dan seketika aku pas nonton bilang, “Damn, ini apaan pake namaku pulak” :D , malah curhat -_-
Trus senyum dah tu cewek Jepang tadi,


Yang jadi pertanyaan, loh koq ini cewek berjilbab, Jepang pulak? nemu dimana gitu? jangan-jangan ketemu di panta Tanjung Benoa, Bali. Soalnya pernah ke Bali sana dan ngebuktiin, cewek-cewek Jepang nya gemes-gemes sih, shit ah wkwkwk
Yang jelas jadi agak nyengir gimana gitu liat scene ini, karna ya Jepang nya ga Nampak gitu, masih Indo banget cara ngomongnya, accent nya. Tapi overall cakep koq nih film, dan tunggu ya review Seri ke 2 nya, yeee

Bye, Sayoonara ^_^



Minggu, 12 Juni 2016

Stalker Mission | Cerita Pendek


STALKER MISSION

          By : Khildan Syuhendra Lubis


Gadis manis itu keluar dari rumah mungil yang bercat hijau terang di ujung gang jalan ini, dia memulai kakinya dengan langkah mantap, pelan namun pasti. Merona pipinya yang merekah menambah suasana di pagi kala kian menaik ke angkasa. Di saat itu ia yang sedang menggenakan kain satin berlengan panjang dan sebuah selimut beludru kuning emas yang menjadi lambang bagi perempuan menutup setiap sisi-sisi kelemahan tubuh indahnya menambah pesona ia sebagai perempuan muslimah yang utuh. Senyumnya membuat burung burung disekitarny bernanyi menyambut kecantikan cucu hawa pergi menuju ke tempat yang ia hendaki. Dengan segera ia berbelok keluar gang untuk keluar dari komplek rumahnya. Aku yang dari tadi berada di balik pohon cemara besar nan tua ini menunggu terpaku cukup lama dengan keindahan di setiap sudut presepsi terpesona karenanya. Ku kumpulkan niat ku untuk menyapanya dengan semangat yang kudapat dari dia ku beranikan diri ini untuk menuntunnya kea rah manapun ia hendak pergi. Aku sudah siap kau jemput sang kekasih. Namun sesaat itu sebuah kendarran umum melintas menyamping kearah ia berhenti dengan gerakan tanggannya memanggil. Sontak aku tersadar, aku tidak bisa terus ternganga oleh dirinya. Ku ayunkan kencang kakiku untuk mengejarnya. Namun terbang lah sudah seekor burung merpati, ia pun tak dapat ku gapai. Rasa penasaran ini kian menggerogoti diriku. Tuhan bimbinglah aku, tolonglah untuk berada disampingku, kuatkan aku, karena aku telah tergugah untuk mencintai seorang insan ciptaanmu. Pertemukanlah.
Siang telah menjemput, jam istirahat telah berlangsung, sekitar 1 jam aku duduk di bangku taman kampus ini, aku yang sedang terkurung dalam kebosanan bersama camera kesayanganku terkejutkan oleh sesosok makhluk indah yang ku lihat tadi pagi sedang bersenda gurau dengan teman teman sebayanya. Senyumnya yang merekah kembali mengingatkan ku pada moment bahagia yang membuat hati ini semakin terasa panas, gerak gerik lembutnya semakin melemaskan tubuh ini ke tanah. Dia begitu sempurna…benar, dia begitu sempurna untuk memulai sebuah cerita rahasia yang mengisi harapan di dalam hati ini. Kudekati mereka, namun belum berani aku memulainya, rasanya aku belum siap di hakimi olehnya. Aku hanya berdiri di balik dinding ini, memerhatikannya dalam dengan cameraku. Aku tak perduli bahwasanya kakiku ini telah gemetar berdiri melihat dia dari kejauhan sedang duduk duduk manis bersama teman sejawatnya. Aku tak perduli berapa peluh keringat yang turun harus menahan panas terik matahari yang membakar kulitku jatuh bergulir. Dan aku tak perduli bila ia tak menggubris keadaanku. Malang diriku.

Jalan lurus yang ia telusuri kian panjang. Menyambungkan dengan sebuah jalan menuju tempat tinggalnya. Aku yang dari tadi berada di belakang punggungnya terus mengikuti kemanapun ia dibawa oleh angin. Dikala aku yang tengah berada di mimpi soreku pun terbuyarkan dengan sebuah mobil melaju dari belakang kami berdua dan melemparkan sebuah sampah botol air minum kearah pinggir jalan dimana gadis itu berada tepat di sampingnya. Mobil itu menghilang ke ujung jalan, namun gadis itu tak memencak memaki kepada siapa yang membawa kuda besi itu.dia hanya memerhatikan kendaraan itu hilang perlahan lahan. Ku lihat dari kejauhan ia menghela nafasnya dan membungkuk kearah sampah botol tersebut dan membawanya bersama dia. Air yang membasahi tangannya tak ia perdulikan tetap ia bawa jalan bersamanya. SUBHANAALLAH, aku bergumam terkejut dalam hati, gadis itu memasukkan botol tadi kedalam sebuah tong sampah besar di pinggiran jalan, dengan sedikit tenaga ia membersihkan sisa sisa air yang membasahi telapak tangannya tadi dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 10 menit ia terus berjalan, tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Baguslah gumamku, agar ia tak mengetahui keberadaanku yang dari tadi mengawasi seluruh perjalanan yang ia tempuh. Tiba tiba dari seberang jalan kami lewati, seorang nenek tua bertongkat sedang linglung tak tau maksud. Gadis itu berhenti dan menoleh kepada nenek tersebut. Nenek itu memanggilnya dengan tangan yang lemas tak bertenaga. Gadis itu paham maksud nenek tersebut, ia mengawasi jalan jalan yang terbentang untuk menyebrang. Sesampainya, ia pegang nenek tersebut dengan kelemah lembutan namun pasti, ia bantu nenek itu untuk sampai di sisi jalan yang lain. Setibanya, nenek itu tersenyum dan membelai sayang pipi gadis tersebut. Senyumman gadis itu membunuh suasana sore ini menjadi lebih mesra, dengan siraman kerlapan cahaya langit sorepun mereka sepakat untuk berpisah.

langit semakin sayup sayup mengelabu. Anak anak yang sedang asik bermain bola kian makin gembira tak menghiraukan letih nya mereka sedang berpuasa. Gadis itu melewati lapangan kecil yang didalamnya terdapat beberapa anak anak berlarian tertawa bahagia bersama mereka. Tanpa terencana, seorang anak laki laki berkulit sawo matang terjatuh saat mengejar benda bulat yang bergelinding tersepak kesana kemari. Ia pun mulai menangis dan memegangi lututnya yang terluka. Terdengar olehnya, malaikat perempuan itu mendatangi bocah tersebut, di rogoh isi tasnya dan mengambil sebuah bandage kecil dan menempelkannya ke kaki anak tersebut. Di rabanya rambut anak tersebut untuk menghentikan tangis sendu anak itu, dan anak itu mulai terdiam dan melemparkan sebuah senyuman penuh kasih sayang kearah gadis terebut. Seorang teman anak lainnya, membisikkan sesuatu kepada gadis tersebut, dan ia pun mengangguk. MASYAALLAH Mereka sepertinya tahu mereka sedang diawasi olehku. Gadis itu berdiri dan membalikkan tubuhnya kearah aku berdiri. Diriku dan segalanya terdiam tersudut. Kini keadaan berbalik mereka yang mengawasiku dengan penuh tatapan cekam. Kemudian gadis itu membuka mulut mungilnya dan berkata dengan lantang.
“kamu yang disana? Keluarlah….!!” Bahasa dari gadis tersebut terdengar getir namun kuat hingga dapat meleburkan tulang tulang ku hingga tak berdaya.
Aku menampakkan diriku perlahan menuju mereka sambil mengalungkan benda favoriteku di leher. Aku berjalan langkah demi langkah untuk berada tatap muka dengannya. Kulihat anak anak lainnya berlindung di belakang jilbab panjang gadis tersebut dengan sedikit ketakutan. Sekiranya beberapa langkah aku terus maju, kulihat mereka memundurkan langkah mereka, selangkah pula akupun memberhentikan kakiku dengan segera.
“maaf, jika mengganggu dirimu disini, aku tidak ada bermaksud apa apa…” kata kata barusan keluar dengan terbata bata kuucapkan, karena ku sadari bahwa caraku ini tidaklah benar.
“lantas, apa maumu?” gadis itu melempar ucapannya padaku. Aku berusaha meraih tas kecilku dan membuka penutupnya, ku ambil sebuah buku berwarna biru muda berjudul “kutinggalkan dia karena dia” keluar bersamanya.
“bukankah buku ini milikmu, aku menemukkannya ditaman, 3 hari yang lalu, tak sengaja kulihat kau sedang tengah asik membacanya, lalu kemudian tak sadar kau menjatuhkan buku ini ketika hendak kau ingin pergi.” Kusodorkan buku itu padanya sambil tersenyum.
Wajahnya terkejut tegang, matanya terbuka sembari terbelalak dengan apa yang sedang ia lihat didepannya, perlahan kian pasti dia mulai tersenyum kecil, sedikit demi sedikit dan iapun tersipu malu, di sambarnya buku itu dengan penuh arti yang tak bisa aku gambarkan, anak anak yang berlindung di belakangnya perlahan memperlihatkan sosok mereka dengan tertawa riang.
“terima kasih….” ucapnya syahdu.
“sama sama” jawabku mantap.
Matahari telah pulang ke pusaranya, pertemuan ini berlanjut dengan perpisahan, sebuah perpisahan yang dimulai dengan sebuah cerita dan harapan kecil, serta sebuah pertemuan tak terduga dan perkenalan yang tak wajar namun manis untuk diinggat. Sebuah pencapaian dari dua insan yang tak saling mengenal namun berakhir indah terjalin dalam tali silaturahmi cinta yang teralun merdu bagaikan suara lantunan adzan yang mengiringi awalnya pertemuan kami yang berhujung kepada pertemanan, cinta dan juga impian.

THE END