Selasa, 06 November 2018

Kidung Wahyu Kolosebo | Lirik & Terjemahan

Kidung Wahyu Kolosebo


Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Hinggo pupusing jaman

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Tinambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Sang Hyang Jati Pengeran

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Tumuju dateng gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Manunggaling kawulo gusti, krenteg ati bakal dumadi
Mukti ingsun …tanpo piranti

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Tyasing roso mardiko,……..

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Byar manjing sigro-sigro

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kataman wahyu ……..Kolosebo

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
Segoro gando arum, suh rep dupo kumelun
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Titahing Sang Hyang Agung

Rembesing tresno, tondo luhing netro roso
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Palilahing Sang Hyang Wenang

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Datan gingsir….sewu warso



Arti ( Terjemahan )


Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
kujaga diriku dari berbuat nista mengelantur (sekehendak hati)

Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu yang diliputi angkara murka

Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
walaupun setan gentayangan selalu membuat gangguan

Hinggo pupusing jaman
hingga akhir jaman

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
sekuat tenaga diriku memadamkan api yang telah berkobar (murka)

Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Mengendalikan Panca Indra, dalam setiap kedipan mata

Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
dilandasi belas kasih, Sang Pemberi Kemulyaan

Sang Hyang Jati Pengeran
Sang Maha Penguasa Sejati

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Bertahta di kalbu, samudera pemandu laku

Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
menuju kepada Tuhan, Dzat pemelihara mahkluk

Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi
Ketika diri sudah bersatu Irama dengan Tuhan, Segala kehendak hati akan menjelma menjadi kenyataan.

Mukti ingsun ... tanpo piranti
kejayaanku ...tanpa syarat (alat)

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
menyebar merata di sukma.. madu sari perwita

Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
beraneka warna prada (prodo: guratan tinta emas pada batik), membangun kesempurnaan diri

Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
sengkala (kesialan) pasti musnah, malapetaka nyata hilang

Tyasing roso mardiko,……..
timbulah rasa bebas (merdeka)

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
semoga karena ucapan pusaka kalimat syahadat

Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
benar benar jadi mustika, didalam jiwa raga

Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
keberuntungan, kemulyaan, kebijaksanaan, kesaktian serta kewibawaan

Byar manjing sigro-sigro
byar.. terwujud dengan segera.

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
ampuh, sepuh, utuh, tidak mempan diteluh (teluh: semacam sihir)

Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
gagah riang gembira, merekah di setiap waktu

Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
satria tata sembada, wiratama kelihatan seribu bintang

Kataman wahyu ……..Kolosebo
Ditimpakan wahyu.... kolosebo (kolo: masa, sebo: menghadap Nya) ..

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
aku memuji dengan menghadap Sang Maha Tinggi

Segoro gando arum, suh rep dupo kumelun
lautan berbau harum, seperti asap dupa ber arak

Ginulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Mengolah Hati, Tekad, & Niat, mengkidung kata kata luhur (tinggi)

Titahing Sang Hyang Agung
perintah Sang Maha Agung

Rembesing tresno, tondho luhing netro roso
Rembesan kasih sayang, tanda air mata rasa

Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
rasa perasaan hati, ibarat air yang suci

Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
diwujudkan japa mantra, diketahui orang jadi penerang

Palilahing Sang Hyang Wenang
Dengan kuasa Sang Maha Kuasa

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
sembilan wewujutan dewa, tali kekuatan semesta

Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
abadi memuji, di surga yang abadi

Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Sang Raja Kolosebo, diwisuda di angkasa

Datan gingsir….sewu warso
Tidak akan lengser (tenggelam) .... seribu tahun 

Selasa, 16 Oktober 2018

Rasa | Sajak


Rasa


Bunga anggur terasa seperti anggur
Bunga persik pun demikian
Tapi tidak dengan bunga rindu
Mengapa yang terasa malah kesakitan

Tidak mampu wujudnya di saksikan
Tak mampu jasadnya di genggam
Tapi ada tetap dalam pikiran


Hingga mematahkan asa begitu legam

Senin, 03 September 2018

Si Bujang Semata Wayang



Berbicara soal semata wayang, tentu dan pasti kalian berfikir bahwasanya menjadi anak tunggal itu sebuah anugrah luar biasa, iconic, dan satu-satunya yang menjadi harta karun keluarga baik itu laki-laki maupun perempuan. Dan sangat kebetulan aku terlahir menjadi seorang laki-laki. Padahal dulu kata orang tuaku, mereka mengharapkan kelahiran bayi perempuan yang akan diberi nama "Naning Budi Pertiwi" , nama yang sudah begitu akrabnya dengan suku jawa tentunya. tapi sangat disayangkan, terlahirlah aku seorang laki-laki tihyang jawi sakti  mandraguna mangkurogo ing bhumi ngayogyokarto. Yap, gelar yang aku beri sendiri untukku karna aku terlahir dengan nama "Danang Budi Pramono" nama yang kira-kira memiliki arti "Seorang lelaki yang cerdas dan baik akhlaknya". Aku dilahirkan di desa Bibis, Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jogja? Lho, kirain di Jambi lahirnya. kata-kata itu kadangkala jadi pertanyaan yang muncul oleh teman-teman yang baru kenal. Tentu saja, karna memang sudah terlalu lama mendiami pulau Svarnadvipa ini. yang kira-kira mulai tahun 1996 sampai sekarang. jadi memang sudah terlalu lama menjadi anak sumatra yang tentunya masih memegang teguh budaya jawa, segi bahasanya saja sih :D

Pertanyaan dari saya nih, pernahkah kalian yang bukan anak tunggal beranggapan bahwasanya menjadi anak tunggal itu enak, tenang, bahkan keren? Asal tahu saja menjadi anak tunggal itu enak, tapi banyak hal yang tidak enaknya juga, mungkin bisa di bilang itu beban karna kamu harus menjadi anak sulung, bahkan anak bungsu, bahkan anak tengah. Jadi satu-satunya tumpuan harapan itu tidak semudah yang di bayangin di pikiran kalian lho, seriusan.

Bahkan, aku justru pengen yang namanya punya adik ataupun kakak, bisa memiliki pembimbing atau bahkan menjadi pembimbing dari saudara. Pastinya lebih seru donk, ada tempat berbagi cerita dan wacana. Ibaratnya kalau lagi galau nih sama pacar, bisa ada yang di ajak curhat tanpa malu-malu .. hehe

Tapi apa daya, sudah terlahir sedemikian jadinya. ya terima sadja lah yaw :D

Berikut ini fakta-fakta tentang saya Si Bujang Semata Wayang :


1. Aku cenderung tertutup dengan masalah pribadi

Yap, ndak bisa di pungkiri, aku sangat jarang sekali bercerita tentang hal pribadi kepada orang lain, toh menurut pendapatku sendiri meski bercerita pun, sulit bagi orang lain untuk memahami perasaan apalagi orang itu bukanlah dari kalangan anak tunggal. Solusi-solusi yang diberikan cenderung sulit ku pahami untuk diterapkan. Kurasa dari setiap masalah hanya aku sendiri lah yang tahu akan solusinya,

2. Akademis tapi acuh

Aku suka yang namanya ilmu pengetahuan baru, sangat suka. Apalagi dengan hal-hal yang berbau sejarah, geografi, dan astronomi. Tapi sangat jarang aku mendalami hal tersebut, bahkan ketika setiap ujian dari sekolah, kuliah pun aku tak pernah belajar. Mau itu dapat nilai tinggi ataupun rendah, tidak terlalu aku fikirkan. Tapi beruntungnya, nilai selalu baik. Alhamdulillah :)

3. Bukan dari keluarga agamis

Didikan agama seharusnya penting ya kan ya? Tapi untuk masalah ini, aku mengenyam keagamaan cuma sampai SD kelas 6, dan setelahnya tidak pernah lagi. Jadi tentang agama, yang kupahami hanyalah sisa-sisa kenangan pelajaran lalu -_- . Baca Al-Qur'an saja agak kurang greget, ini yang bikin malu. Gimana mau bimbing istri ngaji bareng nantinya. Tssssahhh

4. Dekat dengan orang tua, tapi ....

Kedekatan dengan orang tua, aku akui memang sangat dekat. Tapi tahu tidak? ketika timbul masalah dengan bapakku, wuahh sebulan bahkan lebih kami tidak saling menegur. Kalau lewat ya lewat begitu saja, padahal satu rumah. Bapakku sangat keras, aku pun demikian. Tapi ya ujung-ujungnya aku juga yang minta maaf terlebih dahulu :D , takut ngak di kasih uang jajan broh.. Kalau dengan mamak, bahkan curhat soal pacar pun sudah terlalu biasa.. tapi sayang si doi sudah kaga disisi lagi.

5. Suka banget jadi biang keributan

Ini yang paling shakti, sejak sekolah TK akulah biang keributan dari segala keributan, tapi guru-guru ngak sadar kalau aku yang memulai. Pernah sekali hal yang paling parah adalah aku minta kawan-kawanku yang agak bandel-bandel ngebully temen yang namanya masih ku ingat "Irwan Jerry Sihite", temenku yang punya badan paling kecil diantara kami semua. Badannya diangkat kemudian sama-sama masukin si dia ke dalam got depan sekolah, aku sih cuma ketawa-tawa aja, tapi akhirnya ketahuan dengan pak BK "Ryan" dan minta kami semua untuk giliran tidur di got sama seperti yang kami lakuin ke Irwan. Parah :D

6. Suka berangan-angan tinggi

Jelas, berangan tinggi itu jadi sesuatu yang menemani kesepian hati ini, terkadang berangan punya kakak, terkadang berangan punya adik, dan terkadang pula berangan punya calon istri cantik :D , beberapa adik kelas di sekolah atau di kampus kadang aku anggap adik sendiri, begitu pula kakak kelasnya jadi kakak sendiri, tapi kalau pacar orang ngak dianggap pacar sendiri koq (seriusan).

7. Manja? salah!

Orang lain biasanya berfikir anak tunggal pasti manja, dimanjain orang tua, apa-apa yang di minta pasti di belikan. Oh no, asal tau aja ya, aku bukan dari keluarga kaya raya yang bisa minta apa aja. Cuma dari keluarga yang punya sebidang tanah dengan beberapa tanaman sawit yang cukup buat hidup 3 orang di rumah. Itu saja sudah sangat bersyukur sama Allah, hehe.

8. Bebas, Tapi harus usaha sendiri

Bapak selalu menyinggung segala sesuatu hal yang menyangkut pribadiku, diminta untuk usaha sendiri, nentuin pilihan sendiri, kalau mau rumah beli sendiri, jodoh cari sendiri (kata mamakku suruh sama yang deket rumahnya), ah apa ini? haha. Baiklah kalau demikian, sudah terfikirkan. Aku ngak mau sama orang jawa, kenapa? pengen punya keluarga yang berbeda adat, budaya, dan bahasa. Majemuk itu indah :D dalam otakku sekarang.

9. Setia

Hal ini yang sebenarnya aku agak ragukan, tapi aku masukkan saja biar keren :D .. Akulah tipe orang yang setia dalam hubungan (kalau udah pas di hati), anti yang namanya bermain hati dengan yang lain ketika bersama si do'i. Tapi, pernah juga ditinggalkan dengan sebab yang bikin perih, namanya juga belum jodoh. Sekarang sendiri sih, belum ada yang mau terima apa adanya.

10. Hobi Jalan-Jalan

Salah satu hal yang bikin hati adem adalah jalan-jalan, tentu saja. Keindahan alam itu bisa menciptakan perasaan nyaman dan tentram. Selagi punya uang dan dengan sahabat sekawan, kemanapun akan di lajukan. Suatu saat puncak perjalananku adalah negeri matahari terbit, Insyaallah akan kesana menjemput harap.

11. Puitis

Laki-laki mana yang kesepian, lalu ia ngak menjadi puitis? ngak ada. Lihatlah sosok Zainuddin yang sendiri, ia bahkan menjadi sangat puitis bukan? Nah begitulah nasib si anak tunggal, terlahir sangat puitis. Bahkan bercanda pun bisa jadi romantis, ajegile. Aku pun demikian, sudah takdir menjadi pujangga untuk menghibur diri sendiri gan.

12. Suka musik tapi gabisa nyanyi

Lagu-lagu lama, populer, K-Pop, Arab, Jawa, Minang. Hampir semuanya aku suka, aku punya kumpulan lagu-lagu dari jaman baholak sampai jaman now yang kusimpan di Hardisk eksternal kesayangan. Bergiga-giga lah isinya, tapi yang sering di putar ya cuma Via Vallen sama Ratu Sikumbang. Kan dua-duanya populer di genre masing-masing :* Love em.

Menirukan lagu-lagu mereka jadi hobby, tapi suara yang fales jadi kendala, sayang sekali ya hobby yang tidak sejajar dengan kemampuan wkwkw.

13. Suka perempuan berpenampilan natural, tapi bisa masak

Laki-laki donk kalau sukanya sama perempuan, kalau sukanya sama laki-laki juga, kalian tahu lah itu spesies apa haha (Dinoraurus). Tidak bermake-up tebal, bergincu, berpensil alis, pipi merah-merah kayak habis di tampar onta arab yang ku suka. Natural itu lebih indah, lebih terlihat sisi kewanitaannya. Dan yang pastinya bisa masak, tapi bukan cuma masak air dan nasi goreng aja lho ya, minimal bisa masak ayam sambal yang enak, tumis kangkung super krenyes dan rendang juga boleh.

Aku suka banget mengkritik makanan, jadi kalau suatu saat mau masakin. siap-siap di kritik ya, pedes nya makin kerasa bakalan :D

Nah, ono tadi sedikit cerita-cerita yang ngak begitu penting. Tapi akhirnya jadi penting buatku sendiri. Buat kalian yang merasa anak tunggal juga, komen donk di bawah. Apa kalian juga merasakan hal yang sama kaya aku?

- Ness, 4 September 2018

Kamis, 30 Agustus 2018

Tanpa Judul | Sajak

Sulit terpejam kedua bola mati ini ..
Dengan kelopak yang masih menggantung
Menghadap di langit-langit hijau kamar tidurku
Sejenak terlintas sedikit kenangan yang lalu

"
Dimanakah kamu? Apa kabarmu saat ini?
Masih ingatkah padaku yang pernah merindu?
Tidak, kau tidak mungkin mengingatya
Tidak sekatapun kau akan ingat panggilan suara
Yang tiap malan sering ku deringkan untukmu

Aku lelah mengingatmu, aku lelah mengenangmu
Tidak bisakah kau pergi saja dari kepalaku?
Iya pergilah, aku memintamu untuk pergi
Tidak bisa pergi? baiklah, tetap disitu lalu diam

Ah! kau mulai mengacau lagi!
Aku kan sudah memintamu untuk diam
Tapi kau malah terus berjalan, berjalan, bahkan lari
Ya sudah aku tidak akan memaksa apa-apa lagi
Lakukan apa saja sesukamu

Aku ingin tidur, istirahat
Lelah seharian aku mencari kesibukan
Kau tidak akan mengerti semua ini pastinya
Baiklah aku benar-benar ingin pejamkan mataku
"

Ness, 30 Agustus 2018

Jumat, 24 Agustus 2018

Pada Satu Titik | Sajak

Ingatkah ketika Tuhan telah mempertemukan kita pada satu titik
Ia memberikan kesempatan padaku dan padamu untuk saling berbisik
Membiarkan rasa yang mengusik untuk beradu di ruang rindu
Menghempaskan semua yang tak baik menjadikanya tak meragu

Aku selalu ingat bagaimana senyum manis itu kau padukan
Membekas lembut, merajut di dalam seluruh ingatan
Tanpa sadar akalku mulai berfikir terlampau jauh, jauh sekali
Apa dan bagaimana caraku untuk dapat bersanding di sisi

Pada mulanya aku tak pernah paham apa itu menyayangi
Dengan perlahan mencoba untuk membiarkannya berjalan beralur
Hingga pada akhirnya baru ku sadari arti setelah tak lagi dicintai
Ketika aku akan maju namun nyatanya kau meminta untuk mundur

Kerajaanku telah runtuh yang bahkan baru ku bangun pula
Dan pada akhirnya kembali pada sang pemberi mahkota aku bertahta


Ness, 24 Agustus 2018

Rabu, 22 Agustus 2018

Hujan Malam | Sajak

Hujan Malam | Sajak


Apakah kau tahu bila malam ini akan turun hujan?
Tentu saja kau tidak akan menyangkakan itu
Awalnya bulan dan bintang venus saling menatap
Lalu mereka hilang terpisahkan, tertutup oleh awan

Ah, pelangi nanti tak akan timbul setelah hujan reda
Jangan berharap kilauan warna melengkung itu hadir
Iya, apa yang kau harapkan? biasan dari cahaya?
Tentu lampu-lampu malam tak mampu melakukannya

Tapi tenang saja, tak selamanya hujan malam itu menyedihkan
Ia mampu menghadirkan dingin yang sejuk
Lalu memberimu waktu untuk menenangkan diri di atas kasur empuk
Terlelap, dan kamu akan sadar jikalau selimut itu hangat



Kota Baru, 22 Agustus 2018

Rabu, 15 Agustus 2018

Tanda Tanya | Puisi

Tanda Tanya

Rindu, tidak hanya tersebut namun juga terlarut
Pada hati yang dulu pernah ku sambut
Yang membiarkan hati ini terjatuh
Lalu diam bertekuk lutut

Kisah yang mana lagi yang masih ku damba?
Apakah yang telah hilang dan meninggalkan luka?
Sungguh bodoh engkau wahai perasaan
Mengkaji yang hilang dan takkan pernah datang kembali

Dia … Dia yang disana telah bahagia
Dengan pilihan yang ditentukan bapak ibunya
Yang diizinkan atas restu dan cinta kasihnya
Pada lelaki yang dahulu pernah mencintainya

Aku apa…. Aku bukan siapa-siapa
Yang hanya pernah ditemani lalu ditinggal pergi
Aku apa…. Aku bukan apa-apa
Hanya sebiduk yang terombang-ambing
Tanpa tahu kemana arahnya



Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 15 Agustus 2018


Senin, 13 Agustus 2018

Karna Bahagiamu Bahagiaku | Puisi

Karna bahagiamu .. bahagiaku ...


Tak sanggup lagiku menahan perasaan ini
Yang menjadikanku seorang
Yang gila akan cinta kasih

Ruam mata ini mengalirkan beningnya air mata
Yang begitu dalam mengalir di pipi
Bersiap melepas rindu yang mengurai jiwa
Dan engkau, telah disana dengan pilihan yang kau mau

Meski harapan ini masih seperti dulu
Do’aku untukmu semoga engkau bahagia
Karna bahagiamu .. bahagiaku ...


Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 26 Desember 2016


Minggu, 12 Agustus 2018

Sisi Tahtaku | Puisi

Sisi Tahtaku

Hati ini begitu kaku
Lama tidak ku jamah apa itu rasa cinta

Dan pernah sekali ku mencoba
Aku meminta satu
Karnapun kau juga mengharapkan yang sama
Namun akuu gagal di awal titik temuku
Waktuku habis termakan kediamanku

Kau yang pernah menjadikanku raja yang lemah
Diatas kerajaan harapan yang aku bangun
Tak apa, aku rela
Namun, harapku satu
Kembalilah bersamaku dan menjadi permaisuri
Di sisi tahtaku ini



Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 26 Desember 2016


Sabtu, 11 Agustus 2018

Rap Mantan | Lirik Rap

Dulu hati tak berkeluh
Satu hati tak tersentuh
Kian lama jadi jatuh
Cinta kita tak setubuh

Biar hilang biar pergi
Yang tlah hilang tak kembali
Bila sudah sudah mati
Tak terulang berulang kali

Aku benci aku bukan
Hanya sbuah pelampiasan
Dulu bergandeng tangan
Berjalan beriringan

Kau peluk kau rengguk
Penuh rasa dalam peluk
Namun hilang kini hilang
Tinggal hanya hanya bayang

-----

Lelah menyimpan kenangan
Menjaga hati tak beralasan

-----

Kenangan yang terkenang
Tak perlu ku pandang
Kau kata kau jaga
Dalam jiwa dengan nyawa

Tak perlu rasa sedih
Berevolusi jadi gigih
Bila pergi tanpa pamit
Takkan aku rasa sakit

Mantan sudah mantan
Putus saja tanpa beban
Mata tatap masa depan
Kau hawa bukan berlian

Kau bilang kau setia
Rupa rupa banyak kata
Thats become the limit
I know you're best in bullshit


Rindu Padanya | Sajak



Yang lalu biarlah berlalu, kata-kata semu yang selalu terngiang di kepalaku. "Benarkah? mampu kah aku membiarkan itu berlalu begitu saja?", itu yang selalu aku gumamkan pula.


Aku terbayang pada sosok yang pernah kurindukan, bahkan yang saat ini masih saja terus kurindukan. Pada dia yang sejatinya menjadi tujuan hidupku dulu. Ah, tidak perlu aku terlalu begitu, masihkah rela memberikan hujaman pedang pada tubuh ini hingga sakit, teriris dan perih? Siapa mau?


- Disambung Nanti -

Bahagiaku | Puisi

Bahagiaku


Entah kehidupan yang bagaimana yang aku rindukkan
Yang pasti bukan seperti yang kurasakan saat ini
Aku tidak pernah melupakan janji untuk bahagia
Meski menyandang rindu dalam penantian

Berjuta harapan sudah terlanjur kau hampakan
Dengan alasan yang mungkin sulit ku terima
Yang tidak aku tahu mungkin sebenarnya aku yang salah
Aku masih merindukan bahagiaku dulu


Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 25 Desember 2016

Pemain Ketiga | Puisi

Pemain Ketiga


Hidup ini bagai drama
Peranmu begitu kuat bagai lakon utama
Di kisah cinta hidupku ini
Dan aku hanyalah seorang pemain ketiga

Tidaklah menjadi peran yang indah
Namun tak juga tak berarti apa-apa

Aku yang mencoba selalu ada bagimu
Mungkin tak terlihat jelas bagimu rasaku
Terangpun aku tak pernah mengungka kata
Menunggu waktu yang tepat untuk bicara

Tapi .. terlambat
Aku sadar aku hanya pemain ketiga


Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 25 Desember 2016


Rabu, 08 Agustus 2018

Di Sisi Yang Berbeda | Puisi

Di Sisi Yang Berbeda


Jika terlalu berfikir akannya
Apalah arti sebuah penantian
Demi cinta yang tak mungkin di miliki
Demi rindu yang tak bisa di turuti

Di sisi yang berbeda ..
Orang lain dengan sabar menantikan diri ini
Tapi itupun tak membuat arti apa-apa

Harapan ini sudah terlanjur mendalam
Meski hanya semu yang ku pendam


Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 25 Desember 2016


Sempurna | Puisi

Sempurna


Suatu ketika mata ini
Tak mampu menola untuk bertatap
Berkedip untuk sejenak pun ia enggan

Sosok ayu di depan bagi tak terhalang suatu halpun
Terekam indah di lamunan kekaguman
Wajahnya, senyumnya, hayalkan keasaan

Tak sadari detik waktu ku bersua pandang
Wajah itu yang begitu menawan
Mengerutkan lengkung bibirku ke atas dan bergumam

Sempurna ...


Oleh       : Danang Budi Pramono
Tanggal  : 24 Desember 2016


Rabu, 17 Januari 2018

Drama Musikal Nusantara | Orang Kayo Hitam & Asal Mula Negeri Jambi

ORANG KAYO HITAM DAN ASAL MULA NEGERI JAMBI


Silahkan download MP3 nya di sini,

Sebagai referensi, drama ini dibuat oleh siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 4 Merlung, Jambi. Sebagai penampilan pementasan seni 2018


Di sutradai oleh                       : Danang Budi Pramono

Nama pemain                          :

  1. Putri Selaras Pinang Masak
  2. Datuk Berhalo
  3. Anak 1 Rangkayo Pingai
  4. Anak 2 Rangkayo Kedataran
  5. Anak 3 Rangkayo Gemuk
  6. Anak 4 Rangkayo Hitam
  7. Prajurit 1 Melayu
  8. Prajurit 2 Melayu
  9. Raja Mataram
  10. Dayang 1
  11. Dayang 2
  12.   Patih
  13.  Peramal
  14.   Mpu Berjakarti
  15. Mayang Mangurai
  16.  Putri 1
  17.  Putri 2
  18.  Putri 3
  19. Warga
  20. Tumenggung Merah Mato

NARASI KISAH
ORANG KAYO HITAM DAN ASAL MULA NEGERI JAMBI


Alkisah tanah melayu di bumi Nusantara. Seorang Putri dari keturunan Pagaruyung yang memimpin kerajaan melayu bernama Putri Selaras Pinang Masak. Ia menikah dengan seorang saudagar dari Turki yang bergelar “Datuk Paduko Berhalo”. Mereka dikaruniai 4 orang anak, 3 diantaranya, telah menjadi datuk atau pemimpin wilayah di daerah sekitar kuala. Hanya sibungsu yang bernama ‘Orang Kayo Hitam’ yang  lebih memilih memperluas kekuasaan ayahnya sampai kepedalaman.


Pinang Masak : “ Kakanda.. kakanda…?” (memanggil suaminya, si Datuk Berhalo)”.

Datuk Berhalo : “ Ada apa gerangan adinda? Wajahmu terlihat murung.”

Pinang Masak : “ Aku hanya sedikit khawatir. Aku ingin mengumpulkan semua anak-anak kita.”

Datuk Berhalo : “Baiklah akan kupanggilkan mereka semua. Anakku yang pertama, masuklah!”

Anak pertama pun datang..


Datuk Berhalo : “ Wahai anakku yang pertama.. sekarang hidupmu telah bahagia, kau sudah menjadi datuk, dan terima kasih engkau telah memberikanku keturunan yang sangat manis..”

Anak pertama  : “ Terima kasih ayahanda..”

Datuk Berhalo : “ Anakku yang kedua..! Masuk lah!”


Anak ke dua pun datang..

Datuk Berhalo : “ Wahai anakku yang ke dua, kulihat hidupmu sekarang bahagia, kau telah menjadi datuk, dan kau mempunyai keturunan yang sangat lucu..”

Anak ke dua    : “ Terima kasih ayahanda..”

Datuk Berhalo : “ Anakku yang ke tiga..! Masuklah!”

Anak ke tiga pun datang..

Datuk Berhalo : “ Wahai anakku yang ke tiga, kulihat hidupmu sekarang bahagia, kau telah menjadi datuk, dan kau sudah memberiku keturunan..”

Anak ke tiga    : “ Terima kasih ayahanda..”

Datuk Berhalo : “ Anakku yang ke empat! Masuklah!”

Anak ke empat pun datang dengan memperlihatkan kemahirannya dalam ilmu pencak silat. Dia adalah Orang Kayo Hitam. Seorang lelaki yang gagah berani, kuat, dan sakti.      

Datuk Berhalo : “ Wahai anakku yang ke empat, Orang Kayo Hitam.. Akan sempurna keluarga ini jika kamu menjadi datuk, segeralah mencari pendamping hidupmu, dan memberikanku keturunan, seperti kakak-kakakmu..”

Kayo Hitam     : “ Ayahanda.. Saya belum mau menikah, memperluas kerajaan ayahanda ke seluruh tanah melayu, lebih berharga bagi saya. Daripada menjadi datuk atau memiliki anak”

Pinang Masak : “ Wahai anakku Orang Kayo Hitam.. janganlah berpikir begitu, memperluas kerajaan ayahandamu memanglah penting, tetapi pendamping hidupmu itu jugalah penting anakku..”

Kayo Hitam     : “ Baiklah ibunda.. Tetapi, mencari istri itu tidaklah secepat dan semudah itu..”

Pinang masak : “ ibunda mengerti”


Kemudian masing-masing pergi dan yang tertinggal hanya Rangkayo Pingai dan Orang Kayo Hitam. Mereka akan membicarakan tentang kerajaan mereka.

Kayo Hitam     : “ Wahai kando Rangkayo Pingai, apakah kerajaan ini akan selalu berada di bawah kerajaan Mataram? Bukankah kerajaan kita ini bisa berdiri sendiri tanpa kerajaan licik itu?”

Kayo Pingai    : “ Wahai adindo, sesungguhnya aku juga sangat tidak menginginkan itu semua. Tapi.. harus bagaimana lagi? Segala kekuasaan ada di tangan Kerajaan Mataram, jika kita tidak memberikan upeti, mereka akan bertindak sewenang-wenang pada rakyat kita.”

Kayo  Hitam    : “ Mohon maaf kando, tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi, kita tidak bisa terus tertindas seperti ini. Maafkan aku jika bertindak lebih jauh”


Ketika mereka sedang membicarakan perihal kerajaan mereka, istri Rangkayo Pingai yang tengah mengandung tiba-tiba mengerang kesakitan, dia meronta-ronta karena merasakan bahwa jabang bayinya akan segera lahir.


Kayo Pingai    : Kamu kenapa istriku?
Istri                  : Sepertinya anak kita sudah bersiap untuk menatap dunia ini kando.

Keputusan Rangkayo Hitam untuk menghentikan pengiriman upeti ternyata telah direncanakannya. Saat pengiriman upeti berlangsung Rangkayo Hitam datang menghadang.

Kayo Hitam     : Wahai penduduk kerajaan, mengirim pekasang pajak dan pekasang keluang adalah haram. Melayu adalah kerajaan dan Mataram juga kerajaan. Kenapa kita harus tunduk?

Prajurit 1 M    : Benar juga ya benar sekali apa yang diucapkan Raden Rangkayo Hitam.

Prajurit 2 M    : Iya , benar sekali

Kayo Hitam     : Kita harus hentikan pengiriman upeti ini. Aku minta kalian kembali ke kerajaan

Prajurit 1 & 2 : Baik Raden

Pernyataan Rangkayo hitam meyakinkan penduduk kerajaan, dan pengiriman upeti dihentikan untuk beberapa waktu.



Di Kerajaan Mataram,
Suasana gaduh terjadi, dan Raja Mataram sepertinya telah merasakan firasat yang kurang baik.

(Raja mataram sedang bersantai di temani selir-selirnya)


Raja Mataram : “ Huuft.. aku sangat lelah.. Dayang! Kipasi aku! Hei dayang! Lelet tenan koyo keong! Aku ki panasen! Cepetan to, Jangkrik!”

Dayang 1        : Injih ndoro, nyuwun ngapunten

Para dayang pun mengipasi Rajanya dengan sekuat tenaga.

Raja Mataram : “ Hei dayang! Aku ki pengen sek aadem-ademan! Udu angin topan! Wesss. Gowokne aku panganan!

Dayang 2        : Injih ndoro,

Sesaat kemudian patih nya pun datang dengan tergesa-gesa..

Raja Mataram : “ hey-hey-hey! Opo meneh iki! Kurang gaji kalian? Kalian iku malah kurang ajar! Ono opo patih?”

Patih                : “ Ampun ndoro.  Ada seseorang yang telah menggagalkan pengiriman upeti kerajaan ndoro”

Raja Mataram : Sopo?

Patih                : wong soko kerajaan Melayu ndoro!”

Raja Mataram : “ Apaa! Kenapa bisa begitu! Bodoh kalian! Kenapa bisa jebol pertahanan kita!, sudah kufirasatkan ternyata benar-benar terjadi”

Patih                : “ Ampun ndoro, orang itu sangat sakti, namanya Orang Kayo Hitam, dia adalah adik dari Rangkayo Pingai pemimpin kerajaan Melayu.”

Raja Mataram : Arghhh, aku tidak mau tahu. Pokok e tumpas orang yang menjadi biang pembangkangan.

Peramal          : Izin bicara ndoro, orang ini amat sakti ndoro, tidak mudah untuk melawannya. Orang Kayo Hitam hanya dapat terbunuh dengan sebilah keris yang terbuat dari 7 jenis logam dari 9 desa, ditempa dalam 40 Jum’at dan disepuh dengan air 12 muara.

Raja Mataram pun mengambil keputusan yang sulit dengan memintakan peramal untuk membuatkan keris kepada mpu tersakti di negeri Mataram kala itu.

Raja Mataram : Baiklah kalau begitu, peramal. Carikan aku pandai besi yang tersakti di negeri ini, dan mintakan ia untuk membuat keris dalam waktu sesingkat mungkin.

Peramal          : Injih ndoro.

Patih dan Peramal pun undur diri.

Belum genap 40 Jum’at, ternyata Orang Kayo Hitam telah mengetahui perihal tentang keris yang akan dibuat untuk membunuh dirinya. Orang Kayo Hitam seorang diri menyamar sebagai pedagang dan berangkat ke Mataram. Dan sampailah ia di tempat empu pembuat keris.


Kayo Hitam     : Permisi Tuan, saya ingin menawarkan dagangan saya kepada tuan
Mpu                 : Pergilah, aku sedang tidak ingin membeli daganganmu.
Kayo Hitam     : Apa yang tuan sibukkan dengan sebilah besi itu?
Mpu                 : Aku sedang membuat keris untuk membunuh seorang yang amat sakti
Kayo Hitam     : Siapa dia?
Mpu                 : Orang Kayo Hitam dari negeri Melayu.
Kayo Hitam     : Urungkanlah niatmu!, akulah Rangkayo Hitam.
Mpu                 : Hah! Kurang Ajar!

Pertempuran pun terjadi yang berlangsung di tengah gelanggang. Pukulan demi pukulan pun diberikan dari keduanya.

(Pertempuran)

Mpu                 : Aaaahhh, aku tertusuk

Pasukan Kerajaan tiba-tiba datang mengepung Rangkayo Hitam, namun dengan gesitnya ia dapat merobohkan seluruh pasukan kerajaan.

Prajurit            : Ayo, kita bunuh dia
Prajurit 2        : Seraaangg!

Segala usaha yang dilakukan prajurit kerajaan sia-sia. Rangkayo Hitam terlampau sakti.
Tak lama kemudian, Raja Mataram pun datang.

Raja Mataram : Sudah-sudah, hentikan pertarungan ini

Raja Mataram : Melihat kesaktianmu, kau memang tak dapat dikalahkan. Aku memutuskan berdamai denganmu dan melepaskan fasal kerajaan Melayu dari Mataram. Terimalah keris ini

Saat penobatan, keris itu digunakan untuk menggonjai rambutnya. Dan ia ditawarkan untuk menjadi wakil di Kerajaan Mataram. Namun ia lebih memilih untuk kembali ke kerajaannya.

Raja Mataram : Sudikah kau menjadi wakil di Mataram wahai Rangkayo Hitam

Kayo Hitam     : Mohon maaf gusti paduka raja Mataram yang agung. Aku tidak dapat menerima tawaran itu. Aku ingin kembali pada rakyatku di negeri Melayu.



Di perjalanannya, ia berhenti di sebuah kampung dibawah kerajaan Malayu. Ia menemukan sehelai rambut. rambut itu panjang  dan tebal, hitam lagi harum, menandakan pemiliknya adalah seorang wanita yang cantik jelita.  Orang Kayo Hitam bermaksud ingin mencari tau siapa pemilik rambut tersebut, dan akan menjadikannya sebagai istri.


Kayo Hitam     : “ Rambut ini harum dan haluuus sekali. Siapakah gerangan pemilik rambut ini? Aah pujaan hatiku.”

Kayo Hitam     : “Permisi.. Maaf saya menggangu, saya ingin menanyakan siapa gerangan pemilik rambut nan panjang lagi harum ini?”

Warga 1          : “ Maaf.. anda siapa? Sepertinya wajah saudara sangat tidak asing.”

Warga itu tidak mengenali sosok Rangkayo Hitam, ia berpakaian layaknya rakyat biasa

Kayo Hitam     : “ Emm.. saya dari negeri seberang, disini hanya singgah sebentar, kebetulan saya menemukan rambut ini, jadi saya bermaksud untuk mencari tahu..”

Warga 2          : “ Ini rambut ratu kami, namanya Mayang Mangurai.”

Warga 3          : “ Benar. Dia sangat cantik, rambutnya panjang, ia ratu yang baik, adil, dan bijaksana.”

Kayo Hitam     : “ Jika diizinkan, boleh saya tahu dimanakah ratu kalian?”

Warga 1          : “ Boleh..”


Belum sempat warga itu menjelaskan, ada dua orang putri pegawai kerajaan datang menghampiri. Kedua putri itu terkenal dengan sifatnya yang, ah sudahlah!


Putri 1             : “ Ada apa ini?

Putri 2             : Siapa engkau wahai pemuda?

Putri 3             : Apa yang kau lakukan disini?”

Kayo Hitam     : “ Hmm..  saya hanya singgah di kampung ini, dan saya ingin mencari pemilik rambut ini.

Putri 2             : “ Itu kan rambut ratu Mayang Mangurai, kenapa engkau mencarinya, kenapa tidak mencariku saja?”

Putri 1             : “ Hey lihatlah! pemuda ini cukup manis dan tampan.. sepertinya aku menyukainya..”

Putri 2             : “Aku juga!”

Putri 3             : “ Kalian  jangan sembarangan! Mana tau dia penjahat.”

Putri 1             : “ Mana ada penjahat setampan ini, yaa walau sedikit hitam..

Putri 2             : “ dan sepertinya dia bukan pemuda biasa”

Kayo Hitam     : “ Maaf.. dapatkah kalian menunjukkan saya letak istana ratu kalian..?”

Semua Putri    : “ Ssssstttt ….. Oh baiklah. Mari kami antarkan..”


            Ratu Mayang Mangurai sedang melihat-lihat keadaan dan lingkungan rakyatnya..


Mangurai        : “ Wahai rakyat-rakyat ku.. aku ingin mengucapkan terima kasih, pada kalian yang setia menemaniku dan menjaga ketentraman Tanah Tumenggung Merah Mato ini dengan amat baik..”

Warga 1          : “ Wahai baginda ratu.. sudah sepantasnya kami seperti ini. Semua ini berkat sang ratu yang sangat bijaksana mempin kami. Namun yang mulia, apa tidak sebaiknya yang mulia mencari pasangan hidup?”

Mangurai        : “Hal demikian tidaklah mudah bagiku, bila aku berpasangan nanti bagaimana aku akan memimpin rakyatku?

Di tengah perbincangan antara Ratu Mayang Mangurai dan rajyatnya, Orang Kayo Hitam pun datang..

Kayo Hitam     : “ Akhirnya aku menemukanmu.. salam.. hai putri nan cantik jelita.. Aku telah lama mencari pasangan hidup. Dan aku menemukan helaian rambutmu yang indah nan halus ini. Wahai ratu Mayang Mangurai, aku adalah Orang Kayo Hitam. Maukah engkau menikah denganku?”

Semua Putri    : Haaahh…. Sudah kuduga, dia bukan pemuda sembarangan, dia adalah anak dari Datuk Paduko berhalo yang agung itu.

Mangurai        : “ Wahai Orang Kayo Hitam, meski aku mengenalimu sebagai Raden. aku tidak bisa begitu saja menerima pinanganmu, aku mempunyai syarat, pergilah ke pulau jawa dan berikan bunga abadi dari gunung tertinggi disana.

Kayo Hitam     : “ Baiklah, aku akan pergi mencari bunga itu. Tunggu aku kembali!


Orang Kayo Hitam pun pergi mencari bunga yang di maksud oleh sang ratu Mayang Mangurai. Dengan berbagai rintangan, akhirnya ia pun mendapatkannya dan pergi menemui Ratu Mayang Mangurai.


Kayo Hitam     : “ Wahai ratu Mayang Mangurai, kupersembahkan ini untukmu.” (memberikan bunga itu kepada ratu Mayang Mangurai)

Mangurai        : “ Ternyata kau berhasil wahai Orang Kayo Hitam. Engkau memang benar-benar gigih. Sesuai janjiku.. aku mau menikah dengan mu.”


Orang Kayo Hitam pun menikah dengan Ratu Mayang Mangurai. Orang Kayo Hitam membawa istrinya itu menemui ayahanda dan ibundanya.   

Sesampainya disana..


Kayo Hitam     : “ Ayahanda.. ibunda.. aku datang kemari membawa pendamping hidupku. Namanya Mayang Mangurai..”

Pinang Masak : “ Akhirnya.. apa yang ibunda doakan dan ibunda inginkan terkabulkan, semoga engkau bahagia wahai anakku Orang Kayo Hitam.”

Kayo Hitam     : “Terima kasih ibunda..”

Mangurai        : “Terima kasih ibunda..”

Datuk Berhalo : “ Wahai anakku Orang Kayo Hitam, aku lihat hidupmu sudah bahagia, kau sudah mendapatkan pendamping hidupmu. Aku mempunyai sesuatu untuk kau dan istrimu. Ini, kuberikan perahu Kajang Lako dan 2 ekor angsa putih. Pergilah berlayar dan ikuti kemana angsa tersebut pergi. Dan apabila 2 ekor angsa tersebut berhenti di suatu wilayah hingga 2 hari, maka tempat itulah dimana kalian akan tinggal.

Kayo Hitam     : “ Baik ayahanda.. terima kasih. Aku bersama istriku akan pergi sekarang..”

Setelah menyusuri sungai batang hari kedua angsa tersebut berhenti dan menginap di sebuah tempat bernama Kampung Tenadang. Dan mereka membangun sebuah kerajaan baru yang disebut “Tanah Pilih”. Orang kayo hitam melihat di sekitar sungai batanghari itu banyak sekali ditumbuhi pohon pinang.


Oleh karena itu, Orang Kayo Hitam menamai daerah itu dengan nama Jambi. Dalam bahasa jawa, pinang disebut Jambe. Orang kayo hitam mendirikan kerajaan yang secara turun temurun kerajaan jambi dikuasai oleh anak-anak orang kayo hitam. Seluruh rakyat dalam kepemimpinannnya hidup dalam damai.